Book of the year, Inspiration of the year

About a year ago, when i just started my PhD research, my PhD supervisor connected me to three amazing professors on Spatial Point Processes (two professors come from Aussie and another one comes from Denmark). They three would soonly publish their book titled “Spatial Point Patterns : Methodology and Application with R” and they wanted me to read their manuscript and give some either comments or remarks.

How they could expect from a newbie like i was (actually, now is still). Instead of giving remarks, i actually learned a lots from their draft (Although I occasionally gave my thought about, of course). However, they appreciated all my comments and they acknowledged me by mentioning my name on their book.

Their book is now almost ready and will be published officially as my birthday. Enjoy it.

 

cov acknow

Advertisements

Ternyata Konferensi Internasional itu………

International conference. Bagi mereka yang pertama kali menjalani, sepertinya tidak salah jika hati berdegub keras saat mendengar istilahnya. Apalagi jika dihelat di luar negeri. Bagi yang sudah biasa menjalani, who knows. Pada tahun 2013, saat itu masih menyandang status mahasiswa S1 sekaligus S2 (karena saat itu sedang menjalani status sebagai mahasiswa fast-track), aku sempat mendapat kesempatan untuk menghadiri sebuah “konferensi internasional” di korea selatan, sebagai peserta sekaligus salah satu presenter, yang ternyata tidak seperti ekspektasiku, dimana “konferensi internasional” itu tak ubahnya seperti seminar di jurusan sendiri. Kutanyakan kepada beberapa rekan yang juga hadir waktu itu, dan pendapat mereka pun tak jauh beda dengan pandanganku. Tapi tak apalah. Perjalanan pertama kali ke luar negeri pasti selalu mengesankan, bukan? Begitu pula saat itu.

Terdapat sebuah cerita menarik tentang “konferensi internasional” dari salah seorang penulis (karena lupa sumbernya, jadi tidak disampaikan disini. Suatu saat mungkin akan di-update jika menemukan sumbernya). Kadang kita terlampau bahagia atas email bertajuk “acceptance letter” atas diterimanya paper kita untuk dipresentasikan pada sebuah “konferensi internasional”. Sudah terlampau banyak mengeluarkan energi, mulai dari mencari sponsor pendanaan kesana kemari (yang tentu saja harus membuat proposal terlebih dahulu), merevisi paper atas saran reviewer, sampai mempersiapkan banyak hal terkait teknis keberangkatan, namun hasil konferensinya ternyata tidak seperti yang diekspektasikan. Namanya “international conference”, dihelat di luar negeri, paper yang dikirim harus berbahasa inggris, tapi forum (baik presentasi global di teater amphi maupun per kluster) dalam bahasa indonesia. Hahay. Silahkan tersenyum kecut jika itu terjadi.

Tulisan ini tidak banyak membahas tentang hal tersebut. Hanya saja, beberapa waktu lalu, tepatnya 24-28 agustus 2015, aku (yang saat ini sedang menjalani tahun pertama S3 di Prancis) mendapat kesempatan sekali lagi untuk mempresentasikan hasil risetku selama tahun pertama dari  (yang insyallah) tiga tahun PhD research-ku. Karena peserta yang hadir dalam konferensi ini adalah  mahasiswa PhD sampai profesor tingkat dewa, forum dalam bahasa inggris, dan topik konferensi yang cukup spesifik (walaupun definisi spesifik juga masih subjektif), ada beberapa hal menarik yang aku temukan dan ingin aku bagi.

1. Presentasi (ternyata) tidak hanya menyajikan karya

Saat menjadi mahasiswa S1 dulu, alhamdulillah sempat berpartisipasi pada sekitar 10 presentasi makalah ilmiah dalam kompetisi karya tulis ilmiah. Saat itu, ingin sekali rasanya menunjukkan kepada seluruh audiens dan para dewan juri, betapa hebatnya metode/pendekatan/solusi yang kami tawarkan terhadap permasalahan yang kami angkat. Jika ada pertanyaan dari dewan juri, dengan lantang dan penuh percaya diri kami menjawab semua pertanyaan, ingin menunjukkan bahwa kami tahu segala hal tentang permasalahan yang ingin kami pecahkan. Apalagi saat didapuk sebagai salah satu juara, rasanya seperti semua masalah bisa terpecahkan dengan pendekatan yang kami ajukan. Selalu hanya bisa tertawa lepas mengingat masa-masa itu.

Seiring berjalannya waktu, bukannya merasa makin pintar tentang statistika, kok rasa-rasanya seperti semakin merasa tidak tahu apa-apa ya… padahal sudah kuliah S1 selama 4 tahun, S2 selama 2 tahun, dan S3 sudah hampir setahun. Semuanya adalah perkuliahan statistika (maksudnya, saya tidak pernah mengambil studi ilmu sejarah atau hukum internasional, semuanya linier). Itu baru kuliah formal. Kuliah umum atau kuliah tamu saat S1 atau S2 dan seminar probability and statistics mingguan di Lab saat S3 belum kuhitung.

Tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, dalam konferensi internasional yang kuikuti kemarin, tak sedikit speakers (bahkan profesor senior sekelas Wilfrid Kendall) yang malah juga men-share permasalahan penelitian yang mereka hadapi, berharap terdapat audiens yang akan memberi masukan. Pun saat beberapa audiens bertanya, beberapa profesor malah menjawab “i don’t know“, walau disisipi ” you may …” yang menyatakan adanya beberapa direction yang mungkin bisa dilewati, namun hasilnya belum bisa ia jamin. Jadi, sepertinya benar adanya peribahasa tentang ilmu padi.

2. Profesor senior pun tidak seperti yang kubayangkan

Anda mungkin mengenal berberapa nama penulis buku ilmiah mengenai bidang Anda. Pada bidang spatial statistics and stochastic geometry misalnya, nama Wilfrid Kendall, Robert Adler, Jesper Moller, dan Noel A. C. Cressie sepertinya sudah tak begitu asing. Jika membaca bukunya saja sudah terkagum-kagum, bagamana membayangkan melihat wajah seorang profesor senior dari negeri seberang tersebut? apalagi bisa berdiskusi dengan beliau?

Pada saat Robert Adler menyampaikan kuliahnya, Wilfrid Kendall sesekali memberikan komentar pada apa yang disampaikan Robert. Sampai-sampai Robert berkelakar “Wah, aku harus bicara dengan hati-hati nih sekarang, dibelakang sana sudah ada yang siap mengoreksiku”. Sambil kemudian disusul oleh gelagak tawa audiens. Pertarungan sengit antar dua singa, kira-kira begitulah gambarannya.

Bagaimana jika denganku? Sungguh, bayangan pertama saya adalah seperti kucing baru lahir bertemu dengan singa jantan dewasa yang sedang kelaparan. Jadi ceritanya, saat sesi mini city tour, kami dibagi dalam dua kelompok, kelompok yang bisa berbahasa prancis dan kelompok yang berbahasa inggris. Karena aku lebih paham bahasa inggris ketimbang bahasa prancis, dan dua teman dekatku di konferensi itu tidak bisa berbahasa prancis (satu berasal dari austria, dan yang lain dari denmark), jadinya aku bergabung dalam grup tour berbahasa inggris. Tentu saja, Prof Kendall yang dari UK tersebut juga masuk dalam grup kami.

Dalam perjalan tour tersebut, aku berkesempatan untuk sedikit berdiskusi dengan prof Kendall. Awalnya aku ragu, karena jika berdiskusi tentang bidang ilmu, apalah yang bisa kami diskusikan. Ternyata eh ternyata, beliau itu luar biasa bersahaja dan ramah. Bahan diskusinya pun terkait hal yang ringan-ringan, meski berdiksusi tentang topik penelitianku.

3. Ada udang dibalik obrolan makan siang para profesor

Makan siang adalah sesi yang menyenangkan, selain menu makan yang terdiri dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup tentunya (*hehehe). Dalam sesi makan siang sebuah konferensi internaional, apapun bisa terjadi, terutama menjalankan misi. Dari empat kali makan siang dan tambahannya (8 kali coffee break, sekali cocktail party, dan sekali dinner), setidaknya aku menemukan visi terselubung dibalik para dosen dan profesor yang hadir dalam konferensi tersebut : berdiskusi tentang penelitian (terutama berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi, biasanya diskusi terbuka tidak cukup waktunya jadi lebih sering dilakukan pada sesi break) dan mencari kandidat mahasiswa mereka. Dan tentu saja, aku senang karena menjadi salah satu target salah satu visi sang profesor tersebut, walau masih terlalu dini.

Suatu siang di meja makan, aku duduk dengan temanku dari Austria dan didepanku (kebetulan) terdapat profesor dari Swedia. Kami berdiskusi banyak hal, mulai dari iklim pendidikan di negara masing-masing, budaya, sampai pada riset penelitian S3 kami (aku dan teman austria-ku). Eh, sang prof ternyata memiliki sedikit ketertarikan dengan topik risetku. Aku sempat memancing “Wah, aku bisa jadi mahasiswa Post-Doc kamu nih pak setelah selesai PhDku”. Beliau hanya tersenyum, dan kemudian berkelakar “Wah, setelah konferensi ini, sepertinya aku akan mendapat mahasiswa Post-Doc nih..” Kami pun tertawa bersama-sama.

When we meet each other

“Assalamu’alaikum, cinta…” kataku suatu ketika. Ia hanya tersenyum, manis sekali. Lalu memelukku dengan lembut. Sembilan Mei 2015, sekitar 11735 km jarak yang memisahkan kami selama sekitar satu bulan setengah terakhir ini, tuntas sudah. Istriku kini hadir di Grenoble (Prancis) untuk menemaniku dan akan terus bersama-sama mengarungi luasnya samudra kehidupan rumah tangga kami.

“Bagaimana perjalanan hari ini?” Tambahku kemudian setelah kubiarkan Ia puas memeluk tubuhku. Sebuah kotak makan berisi Mie goreng dan ayam kecap menemani bincang-bincang hangat kami sore itu, di sebuah tempat bersejarah bernama Gare de Grenoble (Stasiun Grenoble).

“Alhamdulillah, Mas. Lumayan lancar. Tadi sempat juga berkenalan dengan dosen muda dari Indonesia yang akan studi S3 di Frankfruit, Jerman. Tadi aku sempat kasih kartu nama mas ke beliau juga soalnya beliau minta. Mungkin sebentar lagi beliau akan menghubungi mas.” Terangnya. Lalu ia menceritakan kisah perjalanannya dengan semangat, mulai dari mabuk di pesawat, angkat-angkat koper sendirian saat di kereta, hingga resleting baju yang rusak. Aku hanya memandanginya yang sedang asyik bercerita, sambil sesekali menimpali. Ah… Istriku.. begitu mulianya dirimu… Kau menjadi sangat mandiri saat kau dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kuat, kau menjadi sosok yang lembut saat kau berhadapan dengan suamimu, dan kaupun bisa berubah menjadi sosok yang luar biasa penyabar saat kau dapati sumaimu sedang mengingatkanmu.

Dan perjalanan penjelajahan Eropa pun dimulai. Kali ini kami sedang menjelajahi sebuah daerah asri bernama Vizille, sekitar 19km dari Grenoble. Daerah ini menyimpan sejarah yang diabadikan dalam museum Revolusi Prancis. Sayang, kami belum sempat menjelajahi isi meseum tersebut dan mempelajari apa yang ada di dalamnya. Museum Revolusi Prancis ini memiliki halaman dan daerah konservasi binatang yang sangat luas. Kali ini kami memilih untuk menghabiskan waktu sehari kami untuk menjelajah wilayah tersebut, sekaligus bernostalgia dengan suara gemercik aliran sungai yang jernih, suara bebek dan angsa yang bermain air, juga kuncup kuncup bunga yang sudah bermekaran di musim semi ini. Kami bertekad bahwa dalam waktu dekat akan kembali mengunjungi museum ini, untuk kembali belajar sejarah, sekaligus mengajak teman yang sedang mengambil studi sejarah di Prancis, jadi akan menjadi pengalaman yang tepat, pikirku. Apalagi, Vizille dan Grenoble terhitung dekat, hanya dengan transportasi berupa bus kota, kami bisa diantar menuju Museum tersebut dengan biaya yang sangat murah.

Dalam waktu dekat kami akan melakukan perjalanan panjang pertama kami. Bulan Madu pertama, begitu kami menamainya. Pada tanggal 1-5 Juni, aku akan dikirim Labku ke Lille untuk mengikuti sebuah konferensi ilmiah mengenai Statistika, bidangku. Tentu saja aku mengajak istriku untuk menjelajah Lille bersama, sekaligus kami akan memperpanjang perjalanan kami selama dua hari menuju Belgia mengunjungi teman dekat disana. Semoga perjalanan kami kali ini terus diliputi keberkahan. Insyaallah.

Jawapos: Sebulan Pulang Kampung, Langsung Jadi Motivator

Sebulan ini aktivitas Achmad Choirudin tidak sekadar bersilaturahmi ke sanak keluarganya dan berpuasa Ramadan. Saat ini Achmad justru ramai ”job”. Bekas sekolahnya, SMAN 1 Krian, dan kampusnya ketika berkuliah S-1, ITS, kerap mengundangnya.

Mereka meminta pemuda 22 tahun tersebut menjadi motivator belajar adik-adik kelasnya. ”Temanya catch your dream,” kata Achmad saat ditemui di rumahnya yang sederhana di Desa Simoangin-angin, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, kemarin.

Dalam memotivasi, Achmad menyetel video berdurasi sekitar lima menit yang berisi mimpi-mimpinya selama ini. Video itu amat memikat. Di antaranya, ketika menimba ilmu statistik di ITS, Achmad menginginkan lulus dengan IPK 3,51. Namun, yang diraihnya 3,79. Sama halnya, ketika menargetkan bisa menginjakkan kaki di luar negeri di usia muda, ternyata Achmad berkesempatan belajar di Universite d’Aix-Marseille, Prancis. Di negeri itu, Achmad belajar ilmu matematika terapan. Achmad mengaku diminta untuk memotivasi adik-adik kelasnya. ”Agar mereka juga ikut menundukkan Prancis di bidang ilmu,” terangnya.

Dia belajar amat keras demi meraih cita-citanya. Tiga bulan pertama belajar di dalam kelas, dia menyatakan masih sulit berbahasa Prancis. Bahkan, dia tidak memahami apa yang dibahas di dalam kelas. Meski, sejak dari Indonesia dia sudah mengikuti kursus intensif selama lima bulan penuh. ”Di dalam kelas, saat teman-teman tertawa, saya juga ikutan. Padahal, saya tak paham apa yang ditertawakan,” ucapnya lantas tertawa. Namun, dengan belajar keras, Achmad bisa menaklukkan pendidikan di Prancis yang serbadisiplin.

Berangkat setahun lalu, kini studi Achmad nyaris rampung. Yang lebih hebat lagi, hasilnya menggembirakan. Pemuda kampung tersebut lulus dengan nilai terbaik. ”Saya sidang tesis September nanti,” ungkapnya.

Bahkan, ketika gelar master belum digondol, Achmad sudah diterima studi doktoral di Universite Joseph Fourier, Grenoble, di negara yang sama. Dia menargetkan bisa merengkuh gelar doktor pada 2017 atau ketika usianya tepat 25 tahun.

”Ketika mengajukan proposal studi, saya menyingkirkan sekitar 20 pesaing dari negara lain. Hingga yang diterima hanya tiga orang, yakni Indonesia, Spanyol, dan satu lagi, kalau tak salah dari Rusia,” ujarnya.

Bila semuanya tuntas, Achmad ingin pulang ke Indonesia. Sebenarnya bila berpikir pragmatis, dia bisa saja terus bertahan di luar negeri. Sebab, lebih mudah mencari penghidupan. Bahkan, kekhawatiran ilmuwan di Indonesia tak dihargai juga menghinggapi. Namun, Achmad berpikir lain. Dia yakin suatu saat Indonesia akan membutuhkannya. ”Mimpi saya menjadi rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK),” katanya.

Dia menambahkan bahwa kesempatan pulang kampung tersebut hanya sebulan. Itu pun merupakan hadiah bagi sang ibu, Kastupah. Sebab, sejatinya ibunya kurang sreg bila Achmad terus-terusan di negeri orang. Namun, Achmad berhasil meyakinkan sang ibu. ”Oleh-olehnya saya pulang selama sebulan ini,” ujar pemuda kerempeng itu lantas tersenyum.

Achmad adalah anak kampung tulen. Sehari-harinya orang tuanya, Yauman dan Kastupah, bekerja nguyang di mesin penggilingan padi yang terletak persis di belakang rumahnya. Itu adalah aktivitas mengeringkan gabah, lalu menggiling menjadi beras dan menjualnya ke toko-toko di kampungnya. Ketika masih berkuliah S-1, Achmad juga rajin membantu orang tuanya memasukkan gabah ke dalam sak, seusai dijemur.

Yauman, ayah Achmad, mengatakan bahwa anaknya terbiasa belajar keras ketika bersekolah. Ibunya, Kastupah, juga amat keras mendidiknya. Sehari, anak-anaknya harus belajar tiga kali. Yakni, selepas subuh, siang, dan setelah magrib. ”Semua orang bilang, ’Cak Man, anakmu kuliahnya sukses, ya.’ Saya hanya katakan, sebenarnya biasa saja, saya penginnya dia mondok. Tapi, sebagai anak laki-laki, dia punya pilihan kuat,” ucapnya.

dikutip dari sebuah rubrik di website Jawa Pos

Profil Alumni PPSDMS NF (Didin: Sang Promotor Perubahan)

-Mengenal Alumni PPSDMS Nurul Fikri Lebih Dekat-

Menjadi bagian dari keluarga besar yang tak berpendidikan tinggi membuatnya bertekad untuk menjadi promotor perubahan dalam keluarganya. Itulah Achmad Choiruddin. Dari seluruh keluarga besarnya, barulah ia seorang yang diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki menikmati dunia pendidikan tinggi. Saudaranya yang lain? Mentok berhenti sampai SMA atau SMK.

Sejak lahir pada 10 Desember 1991 silam, Didin, sapaan akrabnya, sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba sederhana. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan rumit, akhirnya ia berhasil diterima di jurusan Statistika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada tahun 2009, melalui program Beasiswa Masuk Universitas yang membebaskannya dari biaya awal masuk kuliah. Pada tahun 2010, ia kemudian akhirnya mulai benar benar “menemukan” dirinya saat bergabung menjadi peserta PPSDMS regional 4 Surabaya. Empat jati diri PPSDMS mulai terpatri dalam dirinya dan ia mencoba untuk menyeimbangkan ke empat elemen tersebut. Selain sempat dipercaya memegang amanah Sekjen Eksternal BEM FMIPA ITS yang berhasil menginisisasi Great Event of MIPA ITS, Didin juga aktif dalam berbagai program kepemudaan dan kepemimpinan nasional seperti Indofood Leadership Camp, Young Leaders for Indonesia, dan Forum Indonesia Muda. Didin juga terlibat menjadi mentor selama kuliah di ITS, baik mentor agama bagi mahasiswa baru, mentor keilmiahan penulisan PKM, pemandu LKMM, sampai mentor kegiatan pengabdian masyarakat melalui program pena bangsa yang bekerjasama antara PPSDMS dan YDSF Surabaya. Tak dipungkiri, Didin memang cukup berpassion dalam dunia ilmiah dan ia terus berusaha untuk mengoptimalkan potensi tersebut: mulai dari mengoptimalkan indeks prestasi di tiap semester (hingga mendapat penghargaan sebagai peraih IPK tertinggi), lalu terlibat dalam dan memenangkan berbagai kompetisi karya tulis ilmiah, PIMNAS, Olimpiade Statistika, mengikuti berbagai Seminar ilmiah Nasional dan Internasional, hingga tahun 2013 ia dianugerahi sebagai Mahasiswa Berprestasi 3 ITS.

Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, ia nekad mengambil program Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis pada tahun 2012. Sebuah program yang mengijinkannya memulai kuliah S2 di Statistika ITS saat ia berada di semester 7 Strata 1, lalu kemudian dilanjutkan program Master satu tahun di Perancis, sehingga jika ditotal Didin dapat menyelesaikan program studi hingga Master dalam lima tahun. Pada 13 Oktober lalu, telah diadakan Ceremonial kelulusan Master Science di Université d’Aix-Marseille, Perancis. Didin, sebagai salah satu mahasiswa pada program Master Sciences, telah dinobatkan sebagai lulusan terbaik untuk jurusan Mathématiques Appliquées aux Sciences Sociales karena berhasil mendapat nilai tertinggi di angkatannya. Dan berkat kerja keras sekaligus do’a orang-orang disekitarnya, Didin mendapat tawaran riset PhD selama tiga tahun justru sebelum ia lulus dari program Masternya.

”Saya menerapkan metode visualisasi mimpi yang diajarkan bang Bachtiar dan mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di pelatihan MHMMD pas di PPSDMS dulu,” jawab Didin saat ditanya bagaimana tipsnya sambil tersenyum.

Kini Didin, disuianya yang relatif muda (22 tahun), sudah berpindah kota dari Marseille ke Grenoble untuk melaksanakan program riset PhD nya di Laboratoire Jean-Kuntzmann di Université Joseph Fourier, Grenoble, Perancis.

Keluarga adalah motivasi terbesarnya untuk terus dan terus berbenah menjadi lebih baik. Ia ingin generasi selanjutnya di keluarganya dapat menikmati dunia pendidikan seluas yang mereka cita-citakan, lalu ia ingin mendirikan perpustakaan umum dan juga sekolah berbasis minat bakat. Ia bercita-cita untuk tak melihat lagi adanya permasalahan anak Indonesia putus sekolah atau tak beruntung mengenyam pendidikan. Baginya, pendidikan adalah salah satu faktor terpenting untuk berubah: merubah diri, merubah hidup, merubah keluarga, merubah bangsa, hingga merubah dunia. Di masa mendatang, ia ingin memiliki peran signifikan dalam perbaikan dunia pendidikan Indonesia dan ikut andil mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Sebuah Cerita di Negeri Dongeng Sepuluh Desember

Sekitar pukul 03.00 dini hari tiba-tiba ia terbangun. Ia mengucek matanya sesekali sembari mengumpulkan kesadaran. Hari ini langit Grenoble serasa berbeda, seperti orang-orang pada umumnya, ia merasa hari ini cukup spesial,-setidaknya baginya- karena dalam hitungan diskrit, angka 22 tahun berubah menjadi 23 tahun mulai hari ini.

Reflek ia meng”on”kan internet di Tablet. Beberapa messages personal dan komunal pun muncul dalam notfikasi whatsapp dan Line-nya. Oh iya, Rudi, sosok yang berulang tahun tersebut, terbiasa untuk menonaktifkan status tanggal lahirnya di Facebook pada hari-hari menjelang ulang tahunnya sampai sekitar tiga hari pasca ulang tahunnya. Tujuannya simpel, ia tak ingin timeline Facebooknya terlalu penuh dengan ucapan selamat ulang tahun yang mungkin justru terlalu ”crowded”, sekaligus ia ingin mendapat do’a dan ucapan hanya dari mereka yang mengingat tanggal lahirnya tanpa bantuan reminder dari Facebook.

Ia membaca satu-satu messages tersebut, sambil terus bersyukur karena ia dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarnya, bahkan tak sedikit messages tersebut datang dari keluarga dan sahabat yang jauh di Indonesia sana.

“Terimakasih Ail telah menjadi yang pertama dalam mengucapkan do’a di ulang tahunku.. walau waktu Prancis masih pukul 18.00, tapi itu menandakan kamu justru terjaga pukul 00.00 di duniamu disana di Indonesia… terimakasih atas foto kue ulang tahun dan video kecilnya… Berharap selanjutnya kue asli yang dikirim.. hehe”

“Terimakasih saudaraku, Jika Ail mengucapkan tepat jam 00.00 waktu Indonesia, engkau pun sepertinya tak mau kalah, Nanu. Hehehe.. Terimakasih telah masih terbangun di pukul 00.00 waktu Prancis, 10 Desember 2014, dan menjadi yang pertama melantunkan do’a untukku , bahkan saat aku sudah terlelap pada waktu tersebut.. wkkkkk”

“Dan kamu juga… terimakasih atas do’anya yang kau lantunkan tepat pukul 00.00 juga… that was really something…”

Ups.. ia teringat kiriman paket beberapa hari lalu, ia mendapat hadiah dari saudaranya di Indonesia, Rama, berupa kaos bertuliskan man jadda wa jada (barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil). Ia ambil baju tersebut, lalu ia siapkan untuk ia pakai hari itu, hari 23 tahunnya itu.

Rudi melanjutkan membaca satu-satu pesannya, ada si Novri, juga keluarganya di PPSDMS NF dan PPI Grenoble pun tak ketinggalan mengucapkan selamat dan melantunkan do’a untuknya. “Terimakasih all”, batinnya.. “terutama Nanu yang ternyata menjadi stimulus di grup PPI Grenoble dan Huda di grup PPSDMS NF” tambahnya dalam hati… Keluarga di Indonesia juga memberikan sepercik doa dan harapan di pertambahan usianya.. Terimakasih Ibu, Bapak, adekk…

Woooo….. ada kiriman audio message dari sahabatnya yang sedang penempatan di Sumatra sana mengabdi menjadi pengajar muda… unik pesannya… thanks, Mas azhar.. 🙂

Finally, pagi menjelang subuh itu akhirnya ia tutup semua messages dengan tangis haru, saat menyaksikan video yang teramat spesial dari tiga saudaranya di Indonesia. Video berdurasi 2 menit 26 detik yang membuatnya menitikkan air mata pula selama durasi video itu diputar… “that was really really special… Big thanks Mbak Yati, Mas Lana, dan Sari… You make my 23 become so amazing…”

Malamnya, Rudi “pura-pura” dikagetkan oleh kejutan lucu, unik, namun sudah tertebak dari keluarga barunya di Grenoble. Terikasih dompetnya Diah, Nanu, Yani, dan Rina. Diam-diam rudi menyukai warna dompetnya… Hihihihi..

Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears”  (John Lennon)