When we meet each other

“Assalamu’alaikum, cinta…” kataku suatu ketika. Ia hanya tersenyum, manis sekali. Lalu memelukku dengan lembut. Sembilan Mei 2015, sekitar 11735 km jarak yang memisahkan kami selama sekitar satu bulan setengah terakhir ini, tuntas sudah. Istriku kini hadir di Grenoble (Prancis) untuk menemaniku dan akan terus bersama-sama mengarungi luasnya samudra kehidupan rumah tangga kami.

“Bagaimana perjalanan hari ini?” Tambahku kemudian setelah kubiarkan Ia puas memeluk tubuhku. Sebuah kotak makan berisi Mie goreng dan ayam kecap menemani bincang-bincang hangat kami sore itu, di sebuah tempat bersejarah bernama Gare de Grenoble (Stasiun Grenoble).

“Alhamdulillah, Mas. Lumayan lancar. Tadi sempat juga berkenalan dengan dosen muda dari Indonesia yang akan studi S3 di Frankfruit, Jerman. Tadi aku sempat kasih kartu nama mas ke beliau juga soalnya beliau minta. Mungkin sebentar lagi beliau akan menghubungi mas.” Terangnya. Lalu ia menceritakan kisah perjalanannya dengan semangat, mulai dari mabuk di pesawat, angkat-angkat koper sendirian saat di kereta, hingga resleting baju yang rusak. Aku hanya memandanginya yang sedang asyik bercerita, sambil sesekali menimpali. Ah… Istriku.. begitu mulianya dirimu… Kau menjadi sangat mandiri saat kau dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kuat, kau menjadi sosok yang lembut saat kau berhadapan dengan suamimu, dan kaupun bisa berubah menjadi sosok yang luar biasa penyabar saat kau dapati sumaimu sedang mengingatkanmu.

Dan perjalanan penjelajahan Eropa pun dimulai. Kali ini kami sedang menjelajahi sebuah daerah asri bernama Vizille, sekitar 19km dari Grenoble. Daerah ini menyimpan sejarah yang diabadikan dalam museum Revolusi Prancis. Sayang, kami belum sempat menjelajahi isi meseum tersebut dan mempelajari apa yang ada di dalamnya. Museum Revolusi Prancis ini memiliki halaman dan daerah konservasi binatang yang sangat luas. Kali ini kami memilih untuk menghabiskan waktu sehari kami untuk menjelajah wilayah tersebut, sekaligus bernostalgia dengan suara gemercik aliran sungai yang jernih, suara bebek dan angsa yang bermain air, juga kuncup kuncup bunga yang sudah bermekaran di musim semi ini. Kami bertekad bahwa dalam waktu dekat akan kembali mengunjungi museum ini, untuk kembali belajar sejarah, sekaligus mengajak teman yang sedang mengambil studi sejarah di Prancis, jadi akan menjadi pengalaman yang tepat, pikirku. Apalagi, Vizille dan Grenoble terhitung dekat, hanya dengan transportasi berupa bus kota, kami bisa diantar menuju Museum tersebut dengan biaya yang sangat murah.

Dalam waktu dekat kami akan melakukan perjalanan panjang pertama kami. Bulan Madu pertama, begitu kami menamainya. Pada tanggal 1-5 Juni, aku akan dikirim Labku ke Lille untuk mengikuti sebuah konferensi ilmiah mengenai Statistika, bidangku. Tentu saja aku mengajak istriku untuk menjelajah Lille bersama, sekaligus kami akan memperpanjang perjalanan kami selama dua hari menuju Belgia mengunjungi teman dekat disana. Semoga perjalanan kami kali ini terus diliputi keberkahan. Insyaallah.

Jawapos: Sebulan Pulang Kampung, Langsung Jadi Motivator

Sebulan ini aktivitas Achmad Choirudin tidak sekadar bersilaturahmi ke sanak keluarganya dan berpuasa Ramadan. Saat ini Achmad justru ramai ”job”. Bekas sekolahnya, SMAN 1 Krian, dan kampusnya ketika berkuliah S-1, ITS, kerap mengundangnya.

Mereka meminta pemuda 22 tahun tersebut menjadi motivator belajar adik-adik kelasnya. ”Temanya catch your dream,” kata Achmad saat ditemui di rumahnya yang sederhana di Desa Simoangin-angin, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, kemarin.

Dalam memotivasi, Achmad menyetel video berdurasi sekitar lima menit yang berisi mimpi-mimpinya selama ini. Video itu amat memikat. Di antaranya, ketika menimba ilmu statistik di ITS, Achmad menginginkan lulus dengan IPK 3,51. Namun, yang diraihnya 3,79. Sama halnya, ketika menargetkan bisa menginjakkan kaki di luar negeri di usia muda, ternyata Achmad berkesempatan belajar di Universite d’Aix-Marseille, Prancis. Di negeri itu, Achmad belajar ilmu matematika terapan. Achmad mengaku diminta untuk memotivasi adik-adik kelasnya. ”Agar mereka juga ikut menundukkan Prancis di bidang ilmu,” terangnya.

Dia belajar amat keras demi meraih cita-citanya. Tiga bulan pertama belajar di dalam kelas, dia menyatakan masih sulit berbahasa Prancis. Bahkan, dia tidak memahami apa yang dibahas di dalam kelas. Meski, sejak dari Indonesia dia sudah mengikuti kursus intensif selama lima bulan penuh. ”Di dalam kelas, saat teman-teman tertawa, saya juga ikutan. Padahal, saya tak paham apa yang ditertawakan,” ucapnya lantas tertawa. Namun, dengan belajar keras, Achmad bisa menaklukkan pendidikan di Prancis yang serbadisiplin.

Berangkat setahun lalu, kini studi Achmad nyaris rampung. Yang lebih hebat lagi, hasilnya menggembirakan. Pemuda kampung tersebut lulus dengan nilai terbaik. ”Saya sidang tesis September nanti,” ungkapnya.

Bahkan, ketika gelar master belum digondol, Achmad sudah diterima studi doktoral di Universite Joseph Fourier, Grenoble, di negara yang sama. Dia menargetkan bisa merengkuh gelar doktor pada 2017 atau ketika usianya tepat 25 tahun.

”Ketika mengajukan proposal studi, saya menyingkirkan sekitar 20 pesaing dari negara lain. Hingga yang diterima hanya tiga orang, yakni Indonesia, Spanyol, dan satu lagi, kalau tak salah dari Rusia,” ujarnya.

Bila semuanya tuntas, Achmad ingin pulang ke Indonesia. Sebenarnya bila berpikir pragmatis, dia bisa saja terus bertahan di luar negeri. Sebab, lebih mudah mencari penghidupan. Bahkan, kekhawatiran ilmuwan di Indonesia tak dihargai juga menghinggapi. Namun, Achmad berpikir lain. Dia yakin suatu saat Indonesia akan membutuhkannya. ”Mimpi saya menjadi rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK),” katanya.

Dia menambahkan bahwa kesempatan pulang kampung tersebut hanya sebulan. Itu pun merupakan hadiah bagi sang ibu, Kastupah. Sebab, sejatinya ibunya kurang sreg bila Achmad terus-terusan di negeri orang. Namun, Achmad berhasil meyakinkan sang ibu. ”Oleh-olehnya saya pulang selama sebulan ini,” ujar pemuda kerempeng itu lantas tersenyum.

Achmad adalah anak kampung tulen. Sehari-harinya orang tuanya, Yauman dan Kastupah, bekerja nguyang di mesin penggilingan padi yang terletak persis di belakang rumahnya. Itu adalah aktivitas mengeringkan gabah, lalu menggiling menjadi beras dan menjualnya ke toko-toko di kampungnya. Ketika masih berkuliah S-1, Achmad juga rajin membantu orang tuanya memasukkan gabah ke dalam sak, seusai dijemur.

Yauman, ayah Achmad, mengatakan bahwa anaknya terbiasa belajar keras ketika bersekolah. Ibunya, Kastupah, juga amat keras mendidiknya. Sehari, anak-anaknya harus belajar tiga kali. Yakni, selepas subuh, siang, dan setelah magrib. ”Semua orang bilang, ’Cak Man, anakmu kuliahnya sukses, ya.’ Saya hanya katakan, sebenarnya biasa saja, saya penginnya dia mondok. Tapi, sebagai anak laki-laki, dia punya pilihan kuat,” ucapnya.

dikutip dari sebuah rubrik di website Jawa Pos

Profil Alumni PPSDMS NF (Didin: Sang Promotor Perubahan)

-Mengenal Alumni PPSDMS Nurul Fikri Lebih Dekat-

Menjadi bagian dari keluarga besar yang tak berpendidikan tinggi membuatnya bertekad untuk menjadi promotor perubahan dalam keluarganya. Itulah Achmad Choiruddin. Dari seluruh keluarga besarnya, barulah ia seorang yang diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki menikmati dunia pendidikan tinggi. Saudaranya yang lain? Mentok berhenti sampai SMA atau SMK.

Sejak lahir pada 10 Desember 1991 silam, Didin, sapaan akrabnya, sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba sederhana. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan rumit, akhirnya ia berhasil diterima di jurusan Statistika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada tahun 2009, melalui program Beasiswa Masuk Universitas yang membebaskannya dari biaya awal masuk kuliah. Pada tahun 2010, ia kemudian akhirnya mulai benar benar “menemukan” dirinya saat bergabung menjadi peserta PPSDMS regional 4 Surabaya. Empat jati diri PPSDMS mulai terpatri dalam dirinya dan ia mencoba untuk menyeimbangkan ke empat elemen tersebut. Selain sempat dipercaya memegang amanah Sekjen Eksternal BEM FMIPA ITS yang berhasil menginisisasi Great Event of MIPA ITS, Didin juga aktif dalam berbagai program kepemudaan dan kepemimpinan nasional seperti Indofood Leadership Camp, Young Leaders for Indonesia, dan Forum Indonesia Muda. Didin juga terlibat menjadi mentor selama kuliah di ITS, baik mentor agama bagi mahasiswa baru, mentor keilmiahan penulisan PKM, pemandu LKMM, sampai mentor kegiatan pengabdian masyarakat melalui program pena bangsa yang bekerjasama antara PPSDMS dan YDSF Surabaya. Tak dipungkiri, Didin memang cukup berpassion dalam dunia ilmiah dan ia terus berusaha untuk mengoptimalkan potensi tersebut: mulai dari mengoptimalkan indeks prestasi di tiap semester (hingga mendapat penghargaan sebagai peraih IPK tertinggi), lalu terlibat dalam dan memenangkan berbagai kompetisi karya tulis ilmiah, PIMNAS, Olimpiade Statistika, mengikuti berbagai Seminar ilmiah Nasional dan Internasional, hingga tahun 2013 ia dianugerahi sebagai Mahasiswa Berprestasi 3 ITS.

Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, ia nekad mengambil program Fast-Track Double Degree Indonesia Perancis pada tahun 2012. Sebuah program yang mengijinkannya memulai kuliah S2 di Statistika ITS saat ia berada di semester 7 Strata 1, lalu kemudian dilanjutkan program Master satu tahun di Perancis, sehingga jika ditotal Didin dapat menyelesaikan program studi hingga Master dalam lima tahun. Pada 13 Oktober lalu, telah diadakan Ceremonial kelulusan Master Science di Université d’Aix-Marseille, Perancis. Didin, sebagai salah satu mahasiswa pada program Master Sciences, telah dinobatkan sebagai lulusan terbaik untuk jurusan Mathématiques Appliquées aux Sciences Sociales karena berhasil mendapat nilai tertinggi di angkatannya. Dan berkat kerja keras sekaligus do’a orang-orang disekitarnya, Didin mendapat tawaran riset PhD selama tiga tahun justru sebelum ia lulus dari program Masternya.

”Saya menerapkan metode visualisasi mimpi yang diajarkan bang Bachtiar dan mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di pelatihan MHMMD pas di PPSDMS dulu,” jawab Didin saat ditanya bagaimana tipsnya sambil tersenyum.

Kini Didin, disuianya yang relatif muda (22 tahun), sudah berpindah kota dari Marseille ke Grenoble untuk melaksanakan program riset PhD nya di Laboratoire Jean-Kuntzmann di Université Joseph Fourier, Grenoble, Perancis.

Keluarga adalah motivasi terbesarnya untuk terus dan terus berbenah menjadi lebih baik. Ia ingin generasi selanjutnya di keluarganya dapat menikmati dunia pendidikan seluas yang mereka cita-citakan, lalu ia ingin mendirikan perpustakaan umum dan juga sekolah berbasis minat bakat. Ia bercita-cita untuk tak melihat lagi adanya permasalahan anak Indonesia putus sekolah atau tak beruntung mengenyam pendidikan. Baginya, pendidikan adalah salah satu faktor terpenting untuk berubah: merubah diri, merubah hidup, merubah keluarga, merubah bangsa, hingga merubah dunia. Di masa mendatang, ia ingin memiliki peran signifikan dalam perbaikan dunia pendidikan Indonesia dan ikut andil mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Sebuah Cerita di Negeri Dongeng Sepuluh Desember

Sekitar pukul 03.00 dini hari tiba-tiba ia terbangun. Ia mengucek matanya sesekali sembari mengumpulkan kesadaran. Hari ini langit Grenoble serasa berbeda, seperti orang-orang pada umumnya, ia merasa hari ini cukup spesial,-setidaknya baginya- karena dalam hitungan diskrit, angka 22 tahun berubah menjadi 23 tahun mulai hari ini.

Reflek ia meng”on”kan internet di Tablet. Beberapa messages personal dan komunal pun muncul dalam notfikasi whatsapp dan Line-nya. Oh iya, Rudi, sosok yang berulang tahun tersebut, terbiasa untuk menonaktifkan status tanggal lahirnya di Facebook pada hari-hari menjelang ulang tahunnya sampai sekitar tiga hari pasca ulang tahunnya. Tujuannya simpel, ia tak ingin timeline Facebooknya terlalu penuh dengan ucapan selamat ulang tahun yang mungkin justru terlalu ”crowded”, sekaligus ia ingin mendapat do’a dan ucapan hanya dari mereka yang mengingat tanggal lahirnya tanpa bantuan reminder dari Facebook.

Ia membaca satu-satu messages tersebut, sambil terus bersyukur karena ia dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarnya, bahkan tak sedikit messages tersebut datang dari keluarga dan sahabat yang jauh di Indonesia sana.

“Terimakasih Ail telah menjadi yang pertama dalam mengucapkan do’a di ulang tahunku.. walau waktu Prancis masih pukul 18.00, tapi itu menandakan kamu justru terjaga pukul 00.00 di duniamu disana di Indonesia… terimakasih atas foto kue ulang tahun dan video kecilnya… Berharap selanjutnya kue asli yang dikirim.. hehe”

“Terimakasih saudaraku, Jika Ail mengucapkan tepat jam 00.00 waktu Indonesia, engkau pun sepertinya tak mau kalah, Nanu. Hehehe.. Terimakasih telah masih terbangun di pukul 00.00 waktu Prancis, 10 Desember 2014, dan menjadi yang pertama melantunkan do’a untukku , bahkan saat aku sudah terlelap pada waktu tersebut.. wkkkkk”

“Dan kamu juga… terimakasih atas do’anya yang kau lantunkan tepat pukul 00.00 juga… that was really something…”

Ups.. ia teringat kiriman paket beberapa hari lalu, ia mendapat hadiah dari saudaranya di Indonesia, Rama, berupa kaos bertuliskan man jadda wa jada (barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil). Ia ambil baju tersebut, lalu ia siapkan untuk ia pakai hari itu, hari 23 tahunnya itu.

Rudi melanjutkan membaca satu-satu pesannya, ada si Novri, juga keluarganya di PPSDMS NF dan PPI Grenoble pun tak ketinggalan mengucapkan selamat dan melantunkan do’a untuknya. “Terimakasih all”, batinnya.. “terutama Nanu yang ternyata menjadi stimulus di grup PPI Grenoble dan Huda di grup PPSDMS NF” tambahnya dalam hati… Keluarga di Indonesia juga memberikan sepercik doa dan harapan di pertambahan usianya.. Terimakasih Ibu, Bapak, adekk…

Woooo….. ada kiriman audio message dari sahabatnya yang sedang penempatan di Sumatra sana mengabdi menjadi pengajar muda… unik pesannya… thanks, Mas azhar.. 🙂

Finally, pagi menjelang subuh itu akhirnya ia tutup semua messages dengan tangis haru, saat menyaksikan video yang teramat spesial dari tiga saudaranya di Indonesia. Video berdurasi 2 menit 26 detik yang membuatnya menitikkan air mata pula selama durasi video itu diputar… “that was really really special… Big thanks Mbak Yati, Mas Lana, dan Sari… You make my 23 become so amazing…”

Malamnya, Rudi “pura-pura” dikagetkan oleh kejutan lucu, unik, namun sudah tertebak dari keluarga barunya di Grenoble. Terikasih dompetnya Diah, Nanu, Yani, dan Rina. Diam-diam rudi menyukai warna dompetnya… Hihihihi..

Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears”  (John Lennon)

I find ‘them’ again…

Memasuki kehidupan baru di lingkungan baru selalu berkorelasi signifikan dengan satu kata : ADAPTASI. Bertempat tinggal di kota pelajar yang benar-benar ‘Eropa’ justru memiliki kesan tersendiri. Tiga deskripsi utama yang bisa kugambarkan mengenai Grenoble selain sebagai ‘Kota pelajar’ adalah : Dikelilingi oleh pegunungan Alpen, Tempat Ski, Minim anggota PPI.

Grenoble sebagai salah satu kota kecil di Perancis memang tak memiliki banyak masyarakat Indonesia yang tinggal disini, jadi sepertinya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan Paris, Lyon atau Marseille. Tahun ini, yang berjumlah belasan itu, justru berada pada posisi menanjak karena beberapa tahun silam anggota PPI tak pernah tembus dua digit. Sedikit tapi berkah, sedikit tapi solid, atau sedikit tapi berkualitas, kira-kira begitu doa kami.. hehehe.. Dan karena ‘sedikit’ itu justru diterbitkan tulisan ini.. Because i find ‘them’ again.. ‘them’ means F-A-M-I-L-Y. 🙂

Tulisan ini didedikasikan untuk saudara-saudara PPI Grenoble, berdoa agar persaudaraan terus terjalin hingga nanti masa ikut andil dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat 🙂

Oke, kita mulai dari Résidence Houille Blanche yang berjumlah 7 orang : Puti, Yanci, Za, Fabrice, Mas Abduh, Mbak Lia, dan aku (Didin).

Mengenal sosok mahasiswi Sarjana pecinta sejarah ini, cukup takjub dengan kedewasaan pemikirannya, begitulah Puti. Lahir sekitar 20 tahun lalu, justru tak menghalanginya memiliki referensi pengetahuan sejarah yang ‘almost’ lengkap bahkan sebelum tahun Masehi dimulai. Selain sangat jago berbahasa inggris, perempuan yang luar biasa blak-blakan ini juga pernah meraih sabuk hijau Taekwondo, jadi harus hati-hati karena beliau sudah pernah memakan korban melalui tendangan dollyo tchagui -nya. Hari pertama sampai Grenoble dimasakin nasi goreng tuna, and many thanks for that. I’ll never forget it.

Handriyanti Diah Puspitarini, begitu nama lengkap sosok yang terkenal suka nyasar di kota kecil ini. Memiliki tanggal lahir yang sama (tanggal dan bulan doang, untuk tahun aku tetep lebih muda :p), membuat olok-olokan sehari-hari kami mengenai ‘usia boros’ dan ‘wajah boros’. Ahli main biola dan tak segan-segan untuk hidup berhemat agar bisa nonton konser biola seharga biaya makan sebulan ini juga memiliki hobi jalan-jalan, sempat menabung hingga seribu euro untuk mempersiapkan menyaksikan Aurora Live di Finlandia. Perempuan yang luar biasa takut dengan lorong gelap ini selalu mengeluarkan satu set lengkap saat nonton bareng film horor : Headset penutup telinga agar gak denger suara film dan selimut penutup wajah biar gak nonton layar saat si hantu muncul. Well, pertanyaannya : terus situ nonton apa kalau telinga dan mata ditutup ??

Usianya baru 18 tahun, jadi ‘mungkin’ agak pantas kalau dia memang yang paling ‘labil’ diantara seluruh pengurus PPI Perancis. Di Indonesia memiliki panggilan Bi Ina, sedangkan di perancis dipanggil Bi Ijah, itulah Zahrina 🙂

Jika kamu punya teman yang senyumnya selalu bikin orang pengen nonjok, apa yang akan kamu lakukan ? Setidaknya aku punya teman seperti itu : Fabrice namanya. Lahir di Montpelier (Perancis) sekitar 24 tahun silam membuatnya mencari jejak ari-arinya dikubur sehingga ia memilih untuk melanjutkan studi Master di Perancis-Italia melalui program beasiswa Erasmus mundus. Jangan ditanya skor Toefl berapa, nyaris 600, jadi kalau lagi pengen ngerjain : ajak ngobrol bahasa Perancis aja… secara lahir di Perancis kan…:p. Seperti Yanti, dokter asal Makassar ini juga jago alat musik, bahkan pernah menjadi pengajar profesional untuk alat musik piano. Bagi yang pengen antri tanda tangan : tarif 5 euro dan bisa menghubungi email di bawah ini 🙂

Mas abduh dan Mbak lia. Pasangan suami istri yang baru menikah Agustus 2014 ini diceritakan satu paket saja.. hehe. Mas abduh adalah alumni Teknik Industri ITS yang akhirnya mendapat beasiswa M2 dan PhD di Perancis. Sosok pekerja keras ini memang low-profil, jadi kita tunggu saja karya karya besarnya. Menemani sang suami melaksanakan riset PhDnya di Perancis untuk 3 tahun mendatang, Mbak Lia rela meninggalkan karirnya. Perempuan kalem asli jawa tengah ini ternyata ‘Master’ dalam dunia per’Uno’an karena sangat seringnya meraih juara ‘satu’ setiap diadakannya perhelatan Uno. *ups… ngambil kartu lagi deh ‘satu’ biji…. [if you know what i mean]

Halil, hal yang paling spektakuler dari Pria kelahiran Makassar ini adalah menikah di Usia 18 tahun tepat setelah kelulusan SMA nya. Menjalani studi sarjana pada bidang Hubungan Internasional di Perancis membuatnya harus berpisah beberapa waktu dengan sang istri tercinta. Sosok 20 tahun ini sangat asik untuk diajak diskusi, selain karena ketertarikan bidang yang beririsan, juga pengetahuannya yang cukup luas :Sirah Nabawiyah, Hukum-hukum agama, pendidikan sampai dinamisasi politik di Indonesia. Mantan ketua OSIS di SMAnya dan mantan ketua PPI Grenoble dua periode ini juga sudah berkali kali mengantongi berbagai kejuaraan olah raga, khususnya sepak bola dan basket. Diperkenalkan satu step setelah seluruh penghuni Houille Blanche karena ada indikasi bahwa Houille Blanche akan nambah member 🙂 Kayaknya Houille Blanche harus kasih komisi nih karena promote orang baru..

Kak Arif, Pria sipit ini sekarang mendapat amanah sebagai ketua PPI Grenoble. Tak heran, aura dan kharismanya sudah tercium sejak pertama bertemu. Setelah meninggalkan program Masternya di Taiwan, kak arif justru tembus beasiswa Eiffel – salah satu beasiswa yang cukup susah ditembus manusia biasa – untuk melanjutkan studi di Perancis. Sosoknya yang ramah dan murah senyum membuatnya menjadi favorit di PPI. Kak fida, sosok ibu PPI Grenoble yang luar biasa bijak namun tetap easy going. Kesukaannya yang luar biasa untuk dipotret benar-benar membuatku berpikir bahwa saat tradisi ‘turun tanah’ masa balitanya dulu mengambil ‘kamera’ atau setidaknya ‘roll film foto’:) Kalau favorit PPI versi laki-laki itu kak Arif, versi wanitanya kak Fida.

Untuk ditya, spesial dideskripsikan tidak dengan kalimat panjang. Ditya = baik, suara halus, pintar banget masak, pengoleksi kartu pos, si pemilik baju segambreng, melankolis akut terutama jika nonton film film drama. Kalau kak rizka, Penerima beasiswa Double-Degree Indonesia Perancis (ITB-UJF) ini memiliki karakter yang unik : kadang rame dan kadang jayus.

For others, please visit : http://ppigrenoble.wordpress.com/warga-dan-alumni/

Menjadi yang terbaik di “dunia barat” bukan hal mustahil

Terimakasih Allah… dan semua orang yang terlibat..
Alhamdulillah diberi kesempatan untuk bisa merealisasikan dua mimpi tahun 2014..
1. Wisudawan Terbaik tahun 2014 – Applied Mathematics in Social Sciences – Université d’Aix-Marseille
2. Beasiswa Riset PhD – Applied Mathematics – Université Joseph Fourier Grenoble 1 (UJF)Université de Grenoble

 

gifts grad ujf