JALAN YANG SUDAH DITAKDIRKAN

Post-doctoral, sebuah posisi yang memang saya incar setelah merampungkan S3 di Universitas Grenoble Alpes, Prancis. Mencari, mendapatkan dan memutuskan post-doc yang mana bukanlah perkara sepele, apalagi jika sudah berkeluarga.

Bagi kami (saya dan istri), memutuskan untuk pindah ke Denmark juga bukan tanpa sebab dan pertimbangan. Beginilah bagaimana akhirnya kami memutuskan untuk pindah dari Prancis ke Denmark.

Rencana 1. Prancis.
Alhamdulillah, pada tahun 2016 Istri saya diterima untuk melanjutkan S3 di Paris yang bisa dimulai tahun 2017, artinya saya harus mencari posisi post-doc di Paris. Oleh karena itu, sejak akhir 2016 saya mencoba untuk mencari-cari beberapa profil profesor dan peluang post-doc di Paris, sementara istri berjuang untuk mendaftar beasiswa LPDP. Singkatnya, alhamdulillah Istri belum ditakdirkan lolos pada tahap wawancara. Jujur, di satu sisi saya ikut merasa menyesal, namun di sisi yang lain saya merasa lega karena sebenarnya Paris bukanlah kota impian saya.

Rencana 2. Australia atau New Zaeland.
Sejak awal 2017, saya menjadi lebih leluasa untuk mencari post-doc, dan tentu saja membuat prioritas untuk Australia dan New Zaeland, dua tempat dimana saya ingin menapakkan kaki sejak lama, jauh sebelum saya menuliskan mimpi untuk ke Prancis pada tahun 2013. Alhamdulillah rencana ini terlihat mulus. Ada seorang profesor di New Zaeland yang tertarik secara serius dengan profil saya. Beliau sedang mencari funding untuk project post-doc dan meminta waktu hingga Mei 2017.

Bulan April sang profesor memberikan sinyal bahwa Ia belum bisa memberikan berita bagus karena funding dipending, sehingga paling cepat saya bisa memulai post-doc dengan beliau di tahun 2018.

Rencana 3. Eropa bukan Prancis.
Saya pun masih terbuka dengan kesempatan lain, namun memang menyegajakan diri untuk tidak bertahan di Prancis. Saya diundang ke Spanyol selama 3 hari oleh salah satu profesor disana, untuk wawancara dan diskusi riset. Disaat yang hampir bersamaan, saya juga mendaftar post-doc di Australia yang beberapa minggu setelah pendaftaran, saya diundang untuk melakukan wawancara secara online. Selain itu, saya juga mendapat tawaran wawancara untuk posisi post-doc ke Denmark. Secara paralel saya siapkan pendaftaran post-doc di Australia, Denmark dan Spanyol, juga Summer school ke Italia, plus manuskrip S3 saya yang perlu segera diselesaikan karena saya harus lulus bulan September.

Singkatnya, pertama, alhamdulillah Profesor di Spanyol menanggapi secara positif dengan memberikan tawaran post-doc 1 tahun, namun kepastian kapan bisa dimulai belum disepakati. Kedua, wawancara online untuk posisi post-doc di Australia berjalan lancar, dan pengumuman baru bisa diberikan sekitar satu bulan setelahnya. Ketiga, alhamdulillah wawancara di Denmark pun berjalan dengan lancar, bahkan keputusan bahwa saya diterima untuk posisi ini diberikan 15 menit setelah proses wawancara. Karena Spanyol dan Australia belum memberikan kejelasan, sementara Denmark menginginkan jawaban segera, akhirnya saya dan Istri sepakat untuk menerima tawaran post-doc di Denmark. Dan saya sangat tidak menyesal atas keputusan ini.

Hikmah yang bisa saya ambil dalam perjalanan pencarian post doc ini:
1. Mimpi saya untuk bekerja sama dengan Prof. Rasmus Waagepetersen (professor di Denmark) bisa terwujud. Sudah berulang-ualng kali saya menyebut nama Waagepetersen di depan istri karena kekaguman kepada beliau secara akademis dan persona. Pernah bertemu sekali pada saat konferesi, dan saat itu pula langsung bercita-cita untuk bisa post-doc dengan beliau. Sayangnya, kesempatan tak datang begitu saja karena banyak hal, hingga detik-detik terakhir menuju sidang S3 barulah saya mendapat kabar beliau membuka posisi post-doc yang tanpa pikir panjang bagi saya untuk mendaftar.
2. Beberapa minggu setelah saya meneriwa tawaran post-doc di Denmark, saya mendapat kabar bahwa saya tidak lolos untuk posisi di Australia, sementara tawaran di Spanyol ditangguhkan untuk tahun 2018 – sama seperti cerita di New Zaeland.

Lalu, jika sudah demikian, nikmat yang mana lagi yang bisa saya dustakan?

Advertisements

Mahasiswa itu kuliah, bukan plesiran: Renungan di hari peringatan kemerdekaan RI

Beberapa hari lalu saya berdiskusi ringan dengan istri terkait fenomena tulisan bertajuk “Mahasiswa itu kuliah, bukan plesiran” sekaligus memplesetkan LPDP=Lembaga Pengelola Dana Pelesiran. Beberapa teman pun ikut ramai membahas. Walaupun saya bukan salah satu penerima beasiswa LPDP, mohon ijin untuk berbagi hasil diskusi saya bersama istri sebagai berikut:

1. Kesempatan yang bertambah.
Sebelum ada LPDP, mendapat kesempatan studi ke luar negeri itu sangat langka. Beasiswa dari luar negeri seperti Fullbright, Chevening, Eiffel, Erasmus adalah beasiswa yang cukup sulit ditembus. Sama sekali tidak berkesimpulan bahwa beasiswa LPDP mudah ditembus, namun dengan adanya program ini, mahasiswa dari Indonesia memiliki kesempatan lebih. Bukankah kita akan menjadi bangga, bangsa Indonesia mampu menyekolahkan mahasiswa terbaiknya di kampus-kampus terbaik dunia?

2. LPDP memberikan nominal beasiswa yang layak.
Statemen ini tidak menyimpulkan bahwa beasiswa lain yang bersumber dari pemerintah Indonesia tidak memberikan beasiswa yang layak. Namun demikian, perlu diketahu pula, pada jaman dahulu kala, banyak cerita mahasiswa Indonesia ke LN dengan beasiswa minim, dan diperparah dengan keterlambatan. Tidak main-main, sampai 6 bahkan 12 bulan. Dari cerita kawan-kawan penerima beasiswa LPDP, pengelolaan beasiswa LPDP sangat baik. Dengan demikian, mereka bisa berfokus pada studi, mengembangkan diri, mengikuti konferensi internasional, membaur dengan peneliti kelas wahid pada bidang masing-masing tanpa terbebani bagaimana makan, bagaimana mengajukan keringanan SPP, bagaimana membayar tagihan RS saat sakit, dan bagaimana bagaimana yang lain. Walalupu tidak banyak, dahulu, ada beberapa kasus dimana kampus atau profesor mempertanyakan nominal beasiswa dari pemerintah Indonesia. Kok negaramu cuma ngasih beasiswa segini? Kok minta-minta keringanan ke kami? LPDP kini berhasil menepis stigma itu. Lagipula, sebenarnya nominal beasiswa tsb bukanlah jumlah yang bombastis, bahkan, dari kasus saya, sebenarnya masih sedikit dibawah beasiswa dari pemerintah Prancis. Istilahnya: cukup! Tidak nelangsa, tidak juga berfoya-foya. Terkait bagaimana mahasiswa tersebut jalan-jalan, tanyalah bagaimana ia melakukan manajemen keuangan.

3. Hidup di LN itu tidak mudah. Kaget dengan perbedaan yang luar biasa banyak: iklim, budaya, bahasa, sistem pendidikan di kampus baru, hingga makanan. Tantangan ini tidak mudah untuk ditaklukkan. Terkait dengan poin 2: dengan beasiswa yang cukup, mahasiswa di LN tidak perlu lagi harus menambah tantangan karena tidak ada uang. Tidak perlu lagi cerita makan nasi lauk garam, dikejar kejar pemilik apartement karena menunggak bayar sewa flat, atau kerja sambilan sebagai pencuci piring di restoran atau loper koran untuk memenuhi kebutuhan. Percayalah, kisah ini nyata terjadi.

4. Saya tidak mengelak bahwa memang ada yang memiliki gaya hidup cukup berlebih, dan saya percaya inilah yang menjadi sorotan utama kritik itu berasal. Sembari posting foto pelesiran, alangkah baiknya jika yang bersangkutan ikut membagi pengalaman saat di LN, karena perlu dikaui bahwa tidak semua WNI memiliki kesempatan itu. Penerima-penerima beasiswa ini dipilih sebagai perwakilan negara untuk berinvestasi terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat di masa depan. Saya melihat bahwa untuk mendapat beasiswa LPDP, ada syarat membuat essay: artinya skill menulis menjadi salah satu persyaratan. Akan sangat berguna jika sang penerima beasiswa bisa membagikan pengalamannya selama di LN. Pengalaman yang sifatnya mencerahkan, menginspirasi, dan menginspirasi.

Terlepas dari itu, saya percaya bahwa setiap penerima beasiswa memiliki tanggung jawab tersendiri yang tidak bisa dianggap sepele. Bagi saya, meminta mahasiswa di LN berempati dengan tidak pelesiran bukanlah bentuk empati yang sebenarnya.

“…untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…”
Pembukaan UUD 1945

Potongan kalimat itu mengingatkan saya bahwa negara, dalam hal ini LPDP, telah berupaya mewujudkannya.

Dirgahayu RI 72
Grenoble, 17 Agustus 2017
Achmad Choiruddin

3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: Ending

“Anda menyampaikan terkait kasus p>>n. Yang dimaksud dengan “n” disini apakah jumlah points atau bagaimana?” Tanya Ege rubak yang merupakan penanya terakhir dari sesi presentasiku.

“Mungkin bukan sepenuhnya bermakna demikian. Jika kita meninjau pada kasus generalized linear models misalnya, maka “n” dapat kita definisikan sebagai jumlah observasi. Namun pada kasus ini, “n” tidak sepenuhnya analog dengan jumlah points.” Aku sedikit menunjukkan kembali slide presentasiku yang menceritakan histori penggunaan metode regularisasi pada kasus regresi linear yang diadaptasi pada estimasi intensity dari spatial point processes. Diskusipun menjadi lebih seru saat Prof Rasmus ikut mengomentari pertanyaan Ege rubak. Ege rubak merupakan salah satu penulis buku Spatial Point Patterns: Methodology and Applications with R. Selain Ege rubak, ada pula Jannine Illian (salah satu penulis buku Statistical Analysis and Modelling of Spatial Point Patterns), Frédéric Lavancier, dan Rasmus Waagepetersen (salah satu penulis buku Statistical Inference and Simulation for Spatial Point Processes) yang sebelumnya telah mengajukan pertanyaan dan komentar kepadaku.

“Baiklah. Jika sudah tidak ada tanggapan dan pertanyaan, kami ucapkan terimakasih sekali lagi kepada Achmad atas presentasinya yang berjudul Convex and non-convex regularization methods for intensity estimation of inhomogeneous spatial point processes. Selanjutnya adalah cofee break. Kita akan memulai kembali sesi berikutnya pada pukul 15.00.” Moderator acara menutup sesi ini dan memberikan arahan agenda selanjutnya. Aku kembali menempati kursiku sambil mengelap butir-butir keringat yang secara otomatis keluar dari dahi. Akhirnya aku selesai menjalankan tugasku dengan cukup baik.

Hampir seluruh peserta workshop keluar ruangan untuk menikmati cofee break yang hanya 15 menit tersebut, sedangkan aku masih merapikan beberapa berkas, sampai akhirnya ada seseorang yang menghampiriku. Aku menoleh kepadanya sambil berusaha menahan diri dari keterkejutan karena sosok yang mendatangiku tersebut adalah Prof Rasmus Waagepetersen. Ia tersenyum kepadaku, sedangkan aku hanya bisa salah tingkah. Aku gugup.

It is an interesting approach.” Bukanya

“Terimakasih. Jeff dulu menawarkan topik riset S3 ini, dan aku pikir, penelitian ini akan menarik dan menantang. Aku juga membaca beberapa paper dan buku-mu. It helps a lot.” Jawabku. Sedikit demi sedikit aku dapat mengontrol diri dari perasaan gugup berhadapan dengan penulis idola. Kami berdua akhirnya menuju tempat cofee break bersama-sama sambil meneruskan perbincangan singkat. Ya Allah.. ini baru bertemu manusia biasa saja sudah seperti ini perasaannya. Bagaimana nanti rasanya saat kau perkenankan aku bertemu dengan baginda nabi Muhammad SAW.

************************

“Kalian sudah siap?” Tanyaku kepada Marco dan Sandra.

“Yup.” Jawab mereka hampir berbarengan. Aku, bersama dengan Marco dan Sandra, berjalan dari hotel menuju restoran tempat kami diundang untuk makan malam bersama. Agenda makan malam ini hanya diperuntukkan untuk tamu undagan, jadi jumlah yang datang pasti lebih sedikit dari jumlah yang hadir dalam workshop.

“Tadi presentasi kamu sangat bagus. Sepertinya kamu sudah sering melakukan presentasi ya..?” Tanya Sandra di sela-sela perjalanan kami.

“Ah.. masa sih? Padahal aku sedikit gugup saat di depan tadi. Presentasi kalian juga bagus tadi. Tapi aku cuma bisa memahami sebatas motivasi penelitiannya saja. Bagian detailnya aku sama sekali tidak mengerti.” Jawabku

“Iya. Dari segi pemaparan dan organisasi slides kamu cukup mudah dipahami. Kata advisorku, suaraku tadi teralu pelan, lain kali sepertinya perlu kuberbaiki. Anyway, aku pernah ke Malaysia sekitar 10 tahun lalu. Malaysia dan Indonesia bukannya dekat ya?” Tanya Sandra mencoba mengganti topik perbincangan. Usaha Sandra cukup berhasil karena topik perbincangan kami akhirnya membahas tentang bermacam-macam budaya di Indonesia, Swedia, dan Italia.

Kami tiba di restoran 5 menit lebih awal dari jadwal yang sudah disepakati. Setelah beberapa menit menunggu, kami akhirnya dipersilakan untuk masuk. Sebenarnya aku ingin duduk bersama Christophe, Melisande, dan Jeff dinner kali ini, namun aku belum melihatnya di restoran, jadi aku duduk satu meja bersama Sandra dan Marco. Meja tersebut berbentuk persegi dan dapat diisi oleh 6 orang. Kami bertemu Amanda di dalam, dan memutuskan untuk duduk ber-empat. Marco duduk di sebelah kananku, sedang Sandra dan Amanda duduk berhadapan dengan kami. Dua bangku kosong masih tersisa di sebelahku.

Tamu undangan lain pun mulai berdatangan, diantaranya ada Jeff, Christophe, Melisande, dan Ege yang duduk satu meja. Dalam hati aku berharap bisa duduk satu meja dengan mereka. Beberapa menit kemudian, Frédéric dan Rasmus masuk ke dalam restoran dan mendongakkan kepala mencari tempat yang masih kosong. Rasmus melihat ke arah meja kami, dan aku hanya bisa berdoa dalam hati agar mereka berdua memilih bergabung bersama kami ber-empat. Rasmus dan Frédéric berjalan perlahan ke arahku, mereka berdua menyapa kami, dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kami. Aku duduk satu meja, bahkan tepat bersebelahan, dengan Prof Rasmus yang fenomenal itu. Kami menjadi banyak berbincang selama makan malam. Terimakasih Ya Allah atas settingan yang engkau atur ini….

******************************

Jeff berjalan menuju mejaku. Ia ada perlu dengan Frédéric yang duduk semeja denganku. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepadaku sambil bertanya, “Achmad, how was your dinner?”

That was great!” Jawabku. “The food is good and also there is Rasmus beside me. I got a lot of things.” Jawabku sambil memperhatikan ekspresi Prof Rasmus yang sedang tersenyum. “Yes. absolutely.” Jawab Jeff. Jeff akhirnya kembali lagi ke mejanya setelah urusannya dengan Frédéric selesai. Kami mengakhiri makan malam kali ini. “Rasmus, terimakasih atas sharingnya. That was a great dinner.” Kataku mengakhiri perbincangan. “Sama-sama, Achmad. I also enjoyed the dinner. Hope to see you again at another conference or workshop.” Ucap Prof Rasmus.

******************

#Hari 3

“Selamat ya ayah.. banyak- banyak bersyukur atas kesempatan ini…” Ucap istriku saat kutelepon sambil menikmati sarapan.

“Insyaallah, say.. Terikamasih ya sudah mengingatkan ayah. Ayah nggak nyangka banget bakal bisa mendapat kesempatan ini semua. Awalnya ayah hanya berekspektasi akan bisa berbincang dengan Ege Rubak, saja. Namun Allah menakdirkan lain dengan cara-caranya yang tak terduga, mulai dari tak sengaja duduk tepat di sebelah Janine Illian di hari pertama hingga duduk bersebalahan dengan Rasmus Waagepetersen saat makan malam.”

“Yah, nanti kalau ada kesempatan, coba minta foto bareng dengan Prof Waagepetersen, yah…”

“Wah… Pengen sih, tapi sungkan say.. Apalagi budaya foto-foto juga gak terlalu eksis di sini kan.. Selama acara lo ndak ada foto-foto sama sekali.. Tapi pengen sih kalau ada kesempatan.. Doanya ya semoga ada kesempatan ya say…. hehe.. Ya sudah, ini ayah harus segera siap-siap untuk berangkat ke tempat workshop ya.. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam 🙂 “

3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: bagian 2

“Baiklah para hadirin. Selanjutnya adalah cofee break untuk 15 menit. Kita akan memulai kembali pukul 11.00.” Salah satu panitia acara memberikan arahan kepada kami. Mataku menuju satu sosok yang sudah kuincar sejak tadi: ege rubak, penulis buku berjudul Spatial Point Patterns: Methodology and Applications with R. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang, mencari momen yang pas untuk bisa menemuinya sekaligus sedikit berbincang dengannya.

“Halo pak ege rubak.” Sapaku kepadanya saat ia mengambil snack. Ege rubak menoleh kepadaku. “Nice to meet you. Aku achmad, PhD student-nya Jeff.” Imbuhku.

“Hi, Achmad. Nice to meet you, too. Ngomong-ngomong, terimakasih atas komen dan masukannya untuk buku kemarin.” Jawabnya.

“Semoga berkenan. Walaupun komenku pasti bukan apa-apa. Tapi bukunya bagus banget. Aku sangat suka. Kemarin Jeff membelikan buku itu buat aku. Dia baik banget.”

“Benarkah? syukurlah jika kau dapat menikmati bukunya. Anyway, PhD kamu tentang apa?” Obrolan kami pun semakin mengalir. Aku senang aku dapat memanfaatkan 10 menit waktu break ini untuk berdiskusi ringan dengan salah satu penulis idolaku.

*****************************************************

“Achmad, kamu berencana langsung balik ke hotel sekarang?” Tanya Marco, PhD student di Swedia yang kebetulan menginap di hotel yang sama denganku. “Jika iya, kita bisa naik bus bersama menuju hotel, bersama Sandra dan yang lainnya juga.” Tambahnya.

“Ok. baiklah. Aku ada perlu sebentar dengan Melisande, 5 menit lagi aku menyusul ya. Terimakasih.” Jawabku.

Setelah urusanku dengan Melisande selesai, aku menuju Sandra, Marco, dan Amanda. Amanda merupakan PhD student dari Brazil yang melaksanakan riset PhD-nya di Denmark. Kami berempat menuju tempat pemberhentian bus untuk menuju hotel. Aila, PhD advisor Marco ternyata juga bersama-sama dengan kami mengincar bus yang sama. Kemudian, disusul oleh salah seorang pak tua dari Finlandia dan Janine Illian yang ternyata juga mengambil bus yang sama. Kami bertujuh menuju tempat pemberhentian bus.

“Hari ini lumayan menarik ya..” Buka Sandra.

“Iya. Aku senag dengan workshop ini. Kamu dan Marco akan presentasi besok, ya?” Tanyaku.

“Iya. Aila dan Janine juga akan presentasi besok.” Jawab Sandra.

Di dalam bus, aku kebetulan berdiri disamping Janine. Akhirnya kumanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit mengobrol dengan beliau. Janine adalah sosok yang ekspresif, humble, namun sangat cepat dalam berbicara. Maklum, dari UK. Kami sama-sama memiliki putra yang masih bayi. Obrolan kami di dalam bus justru habis membahas tentang anak kami masing-masing ketimbang membahas tentang statistics.

#Hari ke 2
Satu per satu pembicara telah mempresentasikan karyanya. Semakin mendekati jatahku, jantungku berdebar semakin cepat. Aku mengirim pesan kepada istriku untuk meminta semangat. “Banyak-banyak membaca bismillah dan sholawat, Ayah.. Inshaallah dilancarkan…” begitu ungkapnya.

“Pembicara berikutnya adalah Achmad dari Universitas Grenoble Alpes, yang akan mempresentasikan karyanya berjudul Convex and non-convex regularization methods for intensity estimation of inhomogeneous spatial point processes“. Moderator memberikan tanda kepadaku untuk segera menempati posisi. Jantungku berhenti sejenak dan tubuhku seperti melayang entah kemana, sebelum akhirnya aku memaksakan untuk berdiri tegak menuju tempat presentasi. Aku melangkah ke depan audiens sambil memaksakan sebuah senyuman ringan. Aku melakukan presentasi di depan Prof Rasmus, ege rubak, Janine, dan segenap wajah peneliti spatial statistics dari seluruh penjuru eropa.

“Terimakasih, Achmad. Selanjutnya dipersilahkan kepada audiens jika memiliki pertanyaan atau komentar.” Tawar sang moderator setelah aku mengakhiri presentasiku yang berdurasi 25 menit itu. Kudongakkan kepalaku, penasaran jika ada satu atau dua audiens yang cukup tertarik dengan topik penelitianku.

Bukan. Bukan satu atau dua tangan yang mengacung. Ada empat: Frederic lavancier, Ege rubak, Janine Illian, dan Rasmus Waagepetersen. Mereka berempat mengacungkan tangannya untuk presentasiku. Bahkan ketiga penulis idolaku mengacungkan tangannya. Oh… Apalagi ini ya Allah…

3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: bagian 1

“Ayah gak bawa sajadah?” tanya istri ditengah-tengah aku merapikan barang2 di dalam koper.
“Mashallah.. oh iya, say.. untung diingatkan. terimakssih ya..” jawabku kepada istri kemudian, masih tetap melanjutkan merapikan barang-barang. setelah memastikan bahwa semua barang sudah siap, aku mencium pipi putra kesayanganku, greno, dan juga istriku, saldhyna.
“doanya ya sayang.. semoga perjalanan ayah lancar.. presentasinya juga lancar…”
“amin….”
*******************************

Rennes, salah satu kawasan britani ini dipilih menjadi lokasi pertemuan para peneliti bidang spatial statistics and image analysis in biology untuk bertemu, berdiskusi, dan bertukar pikiran. Peneliti-peneliti yang datang berasal dari universitas di negara yang sangat beragam, mulai dari Prancis, Denmark, UK, Swedia, Republik Ceko, Jerman, Croatia, Finlandia hingga Saudi arabia. Konferensi kali akan diadadakan dalam 3 hari, rabu-kamis-jumat. Aku dipilih menjadi salah satu tamu undangan untuk mempresentasikan hasil thesis PhD-ku, yang tentu saja, ini semua berkat PhD advisorku, yang juga akan mempresentasikan hasil kerjanya yang lain.

Jantungku berdegub kencang, membayangkan bisa melihat langsung 3 penulis buku spatial statistics yang selama ini menjadi acuanku dalam melakukan penelitian S3. Penulis pertama bernama Rasmus waagepetersen, dari Alboorg university, Denmark. Beliau menulis buku berjudul: Statistical inference and simulation for spatial point processes. Buku ini merupakan buku pertama yang disodorkan advisorku saat memulai riset setahun setengah yang lalu, dan menjadi acuan utama dalam teori spatial point processes. Aku tidak berharap besar untuk bisa ‘ngobrol’ dengan beliau. Dulu saat konferensi internasional lainnya, aku tak sedikitpun bisa berbicara dengan Robert adler, yang merupakan guest lecturer, sekaligus penulis banyak buku, salah satunya berjudul The geometry of random fields. Karena pengalaman itu, aku tak berekspektasi banyak kali ini. Bisa berkenalan dan say hai kepada prof Rasmus saja sudah akan membuatku bahagia.

Penulis kedua bernama Jannine illian, seorang peneliti perempuan yang berkarya di university st.andrews, UK. Bukunya berjudul: Statistical analysis and modelling of spatial point patterns. Bukunya juga menjadi lalapan sehat makan siang-ku setelah beberapa minggu advisorku memberi buku prof Rasmus.

Penulis ke 3, ege rubak. Bukunya merupakan buku paling favorit dibandingkan dua buku diatas, judulnya Spatial Point Patterns: Methodology and Applications with R. Bahasanya lebih mudah dipahami untuk pemula, penjelasannya sangat runtut, dan penerapan dalam software R dipaparkan dengan sangat renyah. Ege rubak merupakan salah satu pemilik package R (bersama dengan Prof Adrian Baddeley dan Rolf Turner) yang sangat besar pemakainnya, spatstat. Beliau adalah target utamaku untuk bisa ngobrol, karena minimal aku sudah punya bekal karena dulu sempat berbalas email mengenai projek bukunya yang aku diminta untuk berkomentar. Beliau juga sangat akrab dengan PhD advisorku, jadi aku mungkin akan lebih mudah ‘mendekati’ penulis yang satu ini.

#hari pertama
kupercepat langkahku setelah melihat jam tangan, angka 8.35 terpampang disana, dan pukul 9.30 acara konferensi dimulai. Pukul 09.15 aku tiba di gedung tempat konferens, dan langsung melakukan registrasi. Kulihat beberapa orang disana, diantaranya ada PhD advisorku, Jeff, dan teman yang sudah kukenal dari konferensi sebelumnya, Christhope. sejauh ini aku belum melihat wajah 3 idolaku, atau karena aku belum familiar karena selama ini hanya bisa melihat wajahnya melalui foto di website.

‘Halo, christope. Bagaimana kabarmu?’ Tanyaku saat menghampirinya
‘Halo, Achmad. Ngomong-ngomong, selamat ya atas kelahiran anakmu.’
‘Terimakasih. Uda jadi bapak aja nih, Aku.’ Tawa kami kemudian meledak bersama. setelah selesai berbasa-basi, aku meninggalkan Christope dan memilih utk menyapa PhD advisorku, sekaligus duduk disebelahnya.
‘Hi, Jeff’ sapaku.
‘Hi, Achmad. Gimana perjalananmu kemarin?’ Kamipun mengobrol santai membahas hal remeh-temeh. Tak lama kemudian, seorang perempuan datang, bersama seorang laki-laki paruh baya, tinggi besar. Mereka berdua duduk di sebelahku, berseberangan dengan jeff. Aku tak terlalu memperhatikannya karena aku sedang mengobrol dengan jeff. perempuan ini tersenyum kepadaku dan menyapa advisorku. kami berdua menyambut senyumnya.
************************************

Tepat pukul 09.30 acara dimulai dengan presentasi dari Jesper moller, seorang penulis buku Statistical analysis and modelling of spatial point patterns bersama Prof Rasmus. Profesor yang ini terlihat garang dan serius, sudah terlihat dari fotonya, dan ternyata terbukti di dunia nyata. Aku tak terlalu mengidolakannya, walau sepertinya beliau sangat disegani di forum ini. Seperti dugaan, prof ini mendapatkan banyak atensi dari audiens. ‘wajarlah… kan penelitk kelas atas dan sangat disegani’ batinku.

‘Nanti Rasmus sepertinya akan mempresentasikan tentang palm distribution‘ ungkap Jesper di tengah-tengah presentasinya. ‘Benar tidak, Rasmus?’ imbuhnya.. ‘Dimana Rasmus?’ lanjut beliau..

‘Ya.. Aku disini’. suara tersebut terdengar sangat dekat. kutelaah sumber suara tersebut. Ternyata Rasmus duduk terpaut hanya dua kursi dari tempatku, tepat disamping perempuan yang duduk disampingku. ‘Ya Allah… ternyata prof Rasmus duduk deket banget.. dan aku baru sadar’. Aku mulai membayangkan topik apa yang akan kubicarakan kalau misal mau datang kepadanya. kucari-cari hal tersebut, tapi belum kutemukan.

Bayanganku menjadi terusik melihat perempuan yang duduk disampingku asik di depan mac-nya. Aku melihat dia sedang mempersiapkan slide presentasi, jadi bisa ditebak bahwa perempuan ini adalah tamu undangan juga. Selain itu, ibu ini juga asik membuka FB dan email secara bergantian. Diam-diam aku memperhatikan slide yang ia buat, berganti membuka fb dan menulis chat dengan seseorang, hingga ia membuka emailnya. Nampaknya ada email baru yang harus ia buka dan jawab. Ia mengetik sesuatu dalam tubuh emailnya, kemudian kulihat ia menekan tombol kirim. ia mengecek kembali email yang telah ia kirim, aku diam-diam mengintip catatan kakinya yang tertulis “Janine Illian”.

Astaghfirullah… perempuan yang dari tadi duduk dsampingku ini ternyata prof dari UK yang menuliskan buku Statistical analysis and modelling of spatial point patterns. Tiba-tiba aku menjadi gugup……

Menyimak semangat egaliter Prancis

Pendahuluan
Isu persamaan hak perempuan terhadap kaum laki-laki menjadi isu yang paling sering diangkat ketika membahas isu ‘egaliter’.  Prancis menjadi salah satu negara yang menganut paham itu. Tak sedikit dijumpai supir sebuah transportasi umum seperti bus, tram, atau metro adalah seorang perempuan. Perempuan merokok juga menjadi fenomena yang normal. Isu ‘egaliter’ jelas mengundang Pro kontra yang tak berkesudahan hingga sekarang. Saya bukanlah pendukung paham ini. Porsi kaum perempuan dan laki-laki sudah jelas diatur dalam agama yang saya yakini. Tulisan ini mencoba memberikan perpektif lain tentang semangat egaliter.

Melihat dari sudut pandang lain
Isu ‘egaliter’ prancis tidak hanya melulu tentang persamaan derajat perempuan terhadap laki-laki. Sungguh, bukan hanya itu. Melihat transportasi umum, sangat nampak semangat egaliter Prancis. Semua kalangan diberikan porsi masing-masing, spot untuk orang tua, ibu hamil, kaum disable pengguna kursi roda, sampai kereta dorong untuk bayi juga ada. Hampir setiap gedung baik gedung universitas, apartemen, perusahaan, atau rumah sakit selalu dilengkapi dengan fasilitas jalan khusus pengguna kursi roda. Kupandang ini sebagai semangat dalam implementasi bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dalam meraih pendidikan, menikmati fasilitas kesehatan, dan memperoleh pekerjaan. Terlebih lagi, seorang teman disable pernah bercerita bahwa ia mengenyam pendidikan di tempat yang sama seperti siswa-siswa ‘normal’ lainnya. Bukan sekolah khusus penyandang cacat seperti yang saya saksikan di negara sendiri. Menurut pengakuan teman saya, perlakuan khusus tentu saja masih diperlukan. Namun ia merasa lebih nyaman karena ia merasa tak di’asing’kan dari dunianya dan masih bisa meraih pendidikan hingga S3. Di apotek, disediakan arena bermain khusus untuk anak-anak. Sebagai seorang warga negara asing, saya masih mendapatkan hak yang sama seperti warga negara Prancis dalam hal-hal primer seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum. Sedemikian rupa Prancis berkomitmen terhadap paham yang mereka anut.

 

Ternyata Konferensi Internasional itu………

International conference. Bagi mereka yang pertama kali menjalani, sepertinya tidak salah jika hati berdegub keras saat mendengar istilahnya. Apalagi jika dihelat di luar negeri. Bagi yang sudah biasa menjalani, who knows. Pada tahun 2013, saat itu masih menyandang status mahasiswa S1 sekaligus S2 (karena saat itu sedang menjalani status sebagai mahasiswa fast-track), aku sempat mendapat kesempatan untuk menghadiri sebuah “konferensi internasional” di korea selatan, sebagai peserta sekaligus salah satu presenter, yang ternyata tidak seperti ekspektasiku, dimana “konferensi internasional” itu tak ubahnya seperti seminar di jurusan sendiri. Kutanyakan kepada beberapa rekan yang juga hadir waktu itu, dan pendapat mereka pun tak jauh beda dengan pandanganku. Tapi tak apalah. Perjalanan pertama kali ke luar negeri pasti selalu mengesankan, bukan? Begitu pula saat itu.

Terdapat sebuah cerita menarik tentang “konferensi internasional” dari salah seorang penulis (karena lupa sumbernya, jadi tidak disampaikan disini. Suatu saat mungkin akan di-update jika menemukan sumbernya). Kadang kita terlampau bahagia atas email bertajuk “acceptance letter” atas diterimanya paper kita untuk dipresentasikan pada sebuah “konferensi internasional”. Sudah terlampau banyak mengeluarkan energi, mulai dari mencari sponsor pendanaan kesana kemari (yang tentu saja harus membuat proposal terlebih dahulu), merevisi paper atas saran reviewer, sampai mempersiapkan banyak hal terkait teknis keberangkatan, namun hasil konferensinya ternyata tidak seperti yang diekspektasikan. Namanya “international conference”, dihelat di luar negeri, paper yang dikirim harus berbahasa inggris, tapi forum (baik presentasi global di teater amphi maupun per kluster) dalam bahasa indonesia. Hahay. Silahkan tersenyum kecut jika itu terjadi.

Tulisan ini tidak banyak membahas tentang hal tersebut. Hanya saja, beberapa waktu lalu, tepatnya 24-28 agustus 2015, aku (yang saat ini sedang menjalani tahun pertama S3 di Prancis) mendapat kesempatan sekali lagi untuk mempresentasikan hasil risetku selama tahun pertama dari  (yang insyallah) tiga tahun PhD research-ku. Karena peserta yang hadir dalam konferensi ini adalah  mahasiswa PhD sampai profesor tingkat dewa, forum dalam bahasa inggris, dan topik konferensi yang cukup spesifik (walaupun definisi spesifik juga masih subjektif), ada beberapa hal menarik yang aku temukan dan ingin aku bagi.

1. Presentasi (ternyata) tidak hanya menyajikan karya

Saat menjadi mahasiswa S1 dulu, alhamdulillah sempat berpartisipasi pada sekitar 10 presentasi makalah ilmiah dalam kompetisi karya tulis ilmiah. Saat itu, ingin sekali rasanya menunjukkan kepada seluruh audiens dan para dewan juri, betapa hebatnya metode/pendekatan/solusi yang kami tawarkan terhadap permasalahan yang kami angkat. Jika ada pertanyaan dari dewan juri, dengan lantang dan penuh percaya diri kami menjawab semua pertanyaan, ingin menunjukkan bahwa kami tahu segala hal tentang permasalahan yang ingin kami pecahkan. Apalagi saat didapuk sebagai salah satu juara, rasanya seperti semua masalah bisa terpecahkan dengan pendekatan yang kami ajukan. Selalu hanya bisa tertawa lepas mengingat masa-masa itu.

Seiring berjalannya waktu, bukannya merasa makin pintar tentang statistika, kok rasa-rasanya seperti semakin merasa tidak tahu apa-apa ya… padahal sudah kuliah S1 selama 4 tahun, S2 selama 2 tahun, dan S3 sudah hampir setahun. Semuanya adalah perkuliahan statistika (maksudnya, saya tidak pernah mengambil studi ilmu sejarah atau hukum internasional, semuanya linier). Itu baru kuliah formal. Kuliah umum atau kuliah tamu saat S1 atau S2 dan seminar probability and statistics mingguan di Lab saat S3 belum kuhitung.

Tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, dalam konferensi internasional yang kuikuti kemarin, tak sedikit speakers (bahkan profesor senior sekelas Wilfrid Kendall) yang malah juga men-share permasalahan penelitian yang mereka hadapi, berharap terdapat audiens yang akan memberi masukan. Pun saat beberapa audiens bertanya, beberapa profesor malah menjawab “i don’t know“, walau disisipi ” you may …” yang menyatakan adanya beberapa direction yang mungkin bisa dilewati, namun hasilnya belum bisa ia jamin. Jadi, sepertinya benar adanya peribahasa tentang ilmu padi.

2. Profesor senior pun tidak seperti yang kubayangkan

Anda mungkin mengenal berberapa nama penulis buku ilmiah mengenai bidang Anda. Pada bidang spatial statistics and stochastic geometry misalnya, nama Wilfrid Kendall, Robert Adler, Jesper Moller, dan Noel A. C. Cressie sepertinya sudah tak begitu asing. Jika membaca bukunya saja sudah terkagum-kagum, bagamana membayangkan melihat wajah seorang profesor senior dari negeri seberang tersebut? apalagi bisa berdiskusi dengan beliau?

Pada saat Robert Adler menyampaikan kuliahnya, Wilfrid Kendall sesekali memberikan komentar pada apa yang disampaikan Robert. Sampai-sampai Robert berkelakar “Wah, aku harus bicara dengan hati-hati nih sekarang, dibelakang sana sudah ada yang siap mengoreksiku”. Sambil kemudian disusul oleh gelagak tawa audiens. Pertarungan sengit antar dua singa, kira-kira begitulah gambarannya.

Bagaimana jika denganku? Sungguh, bayangan pertama saya adalah seperti kucing baru lahir bertemu dengan singa jantan dewasa yang sedang kelaparan. Jadi ceritanya, saat sesi mini city tour, kami dibagi dalam dua kelompok, kelompok yang bisa berbahasa prancis dan kelompok yang berbahasa inggris. Karena aku lebih paham bahasa inggris ketimbang bahasa prancis, dan dua teman dekatku di konferensi itu tidak bisa berbahasa prancis (satu berasal dari austria, dan yang lain dari denmark), jadinya aku bergabung dalam grup tour berbahasa inggris. Tentu saja, Prof Kendall yang dari UK tersebut juga masuk dalam grup kami.

Dalam perjalan tour tersebut, aku berkesempatan untuk sedikit berdiskusi dengan prof Kendall. Awalnya aku ragu, karena jika berdiskusi tentang bidang ilmu, apalah yang bisa kami diskusikan. Ternyata eh ternyata, beliau itu luar biasa bersahaja dan ramah. Bahan diskusinya pun terkait hal yang ringan-ringan, meski berdiksusi tentang topik penelitianku.

3. Ada udang dibalik obrolan makan siang para profesor

Makan siang adalah sesi yang menyenangkan, selain menu makan yang terdiri dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup tentunya (*hehehe). Dalam sesi makan siang sebuah konferensi internaional, apapun bisa terjadi, terutama menjalankan misi. Dari empat kali makan siang dan tambahannya (8 kali coffee break, sekali cocktail party, dan sekali dinner), setidaknya aku menemukan visi terselubung dibalik para dosen dan profesor yang hadir dalam konferensi tersebut : berdiskusi tentang penelitian (terutama berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi, biasanya diskusi terbuka tidak cukup waktunya jadi lebih sering dilakukan pada sesi break) dan mencari kandidat mahasiswa mereka. Dan tentu saja, aku senang karena menjadi salah satu target salah satu visi sang profesor tersebut, walau masih terlalu dini.

Suatu siang di meja makan, aku duduk dengan temanku dari Austria dan didepanku (kebetulan) terdapat profesor dari Swedia. Kami berdiskusi banyak hal, mulai dari iklim pendidikan di negara masing-masing, budaya, sampai pada riset penelitian S3 kami (aku dan teman austria-ku). Eh, sang prof ternyata memiliki sedikit ketertarikan dengan topik risetku. Aku sempat memancing “Wah, aku bisa jadi mahasiswa Post-Doc kamu nih pak setelah selesai PhDku”. Beliau hanya tersenyum, dan kemudian berkelakar “Wah, setelah konferensi ini, sepertinya aku akan mendapat mahasiswa Post-Doc nih..” Kami pun tertawa bersama-sama.