Game ‘Jembatan Buaya’ Warnai Mentoring Pena Bangsa YDSF

Sumber : http://www.ydsf.org/komunitas/game-jembatan-buaya-warnai-mentoring-pena-bangsa-ydsf

Program Pena Bangsa merupakan program yang membina dan membekali penerima beasiswa YDSF. Mereka ini merupakan siswa-siswa berasal dari keluarga yang tidak mampu secara finansial. Di antara 3.862 anak asuh Program Pena Bangsa, sekitar 100 saja yang diajak dalam mentoring dan pembinaan.

Mentoring ini diadakan setiap pekan dengan kurikulum materi yang sudah disusun oleh tim khusus dan disertai elaborasi mentor masing-masing sesuai dengan kebutuhan pada masing-masing kelompok.

Kali ini dua orang mentor mencoba berkolaborasi untuk meningkatkan keakraban antarkelompok binaan program Pena Bangsa melalui program yang belum pernah diagendakan sebelumnya. Achmad Choiruddin dan Farizi Rahman mencoba berkolaborasi.

Seperti biasanya, mentoring dimulai pukul 16.00 di masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga Surabaya. Tapi kali ini karena pertemuannya dijadwalkan berbeda sehingga dua mentor datang lebih awal sekiar 45 menit sebelum acara dimulai untuk mempersiapkan agenda kali ini.

Setelah semua berkumpul, acara dimulai dengan tilawah dan tausyiah dari mentor sekitar 10 menit. Setelah itu Achmad Choiruddin menjelaskan bahwa pertemuan kali ini merupakan pertemuan yang berbeda. Pertemuan kali ini tidak didominasi dengan diskusi di dalam ruangan dan duduk saja, melainkan pertemuan outdoor.

Adik binaan yang hadir berjumlah 13 tersebut kemudian dibagi menjadi 4 kelompok yang sengaja dibaurkan dari kelompok binaan 1 dan kelompok 2. Setelah terbentuk, mereka diberi waktu untuk berkenalan satu sama lain dan harus menghafal nama timnya. Permain dibagi menjadi dua sesi, permainan pertama dinamakan permainan cepat tangkas.

Kali ini setiap tim diberikan sebuah kata kunci untuk mencari sebuah benda yang sengaja sudah disembunyikan oleh kakak mentor yang posisinya dijelaskan melalui pentujuk yang diberikan kepada masing-masing tim. Pada permainan ini terlihat kerjasama mereka dalam satu tim mulai dibangun melalui pembagian tugas dan penerapan komunikasi. Setelah sekitar 25 menit, akhirnya kelompok 2 berhasil menemukan benda yang disembunyikan dan dinyatakan menang pada permainan pertama ini.

Setelah selesai menguras otak pada permainan pertama, permainan kedua lebih mengandalkan fisik dan strategi. Permainan kedua tetap dalam empat kelompok yang dipertandingkan. Permainan ini dinamakan lewat jembatan buaya. Sesuai dengan namanya, setiap kelompok hanya diberi dua lembar koran bekas yang digunakan untuk menyeberangi jalan dari satu titik ke titik yang lain sepanjang sekitar 15 meter.

Setiap tim harus berdiri di atas lembaran koran tersebut tanpa ada satupun yang menyentuh tanah. Jika menyentuh tanah, mereka harus mengulang dari titik awal. Kelompok yang paling cepat sampai pada titik tujuanlah yang dinyatakan sebagai pemenang.

Permainan kedua ini terlihat lebih seru bagi mereka karena terlihat mereka lebih antusias dalam memainkannya. Permainan ini akhirnya selesai dalam sekitar 15 menit setelah dimenangkan kelompok 1.

Selepas permainan kedua ini, semua anggota kelompok dikumpulkan pada serambi Masjid Nuruzzaman untuk menuturkan kesan–kesannya. Apa saja kesulitan, tantangan, cara mereka mengatasi, dan nilai apa yang bisa didapat pada kedua permainan tersebut. Kedua mentor cukup puas dengan agenda hari ini. Beberapa nilai positif telah mereka rasakan melalui simulasi permainan kecil ini.{}

*Oleh Achmad Choiruddin
Mahasiswa Jurusan Statistika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Pembina mentoring Pena Bangsa, klaster Sukolilo Surabaya-Kenjeran
https://achmadchoy.wordpress.com

Selangkah Lagi Wahai (Calon) Dokter Muda

Sumber : http://www.ydsf.org/komunitas/selangkah-lagi-wahai-calon-dokter-muda

Oleh Achmad Choiruddin*

Hari yang cukup melelahkan dengan segudang deadline. Cukup rumit juga me-manage keingingan yang tak ada batasnya ini. Mengingat bahwa hari ini adalah deadline mengumpulkan abstrak sebuah lomba karya tulis tingkat nasional yang akan dikompetisikan, laporan kuliah mata kuliah Analisis Data Kualitatif, survei lapangan mata kuliah Metode Riset Sosial yang harus selesai analisisnya Senin (12/8), UAS yang akan dimulai Senin dengan mata kuliah yang paling menakjubkan, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BEM FMIPA ITS yang sebentar lagi akan melaporkan segala aktivitas yang telah dilaksanakan kepada seluruh mahasiswa FMIPA ITS, dan tugas bulanan laporan pembinaan Pena Bangsa.

Pena Bangsa adalah sebuah program pembinaan bagi adik-adik tidak mampu penerima beasiswa dari YDSF Surabaya. Mentoring ini kerjasama yang digarap YDSF, PPSDMS, dan Yayasan SDM IPTEK bersama mitra dengan tujuan mencerdaskan intelaktual dan mental generasi muda.

Malam itu  (11/8), sekitar pukul 22.16, ponsel saya berdering dikejutkan dengan sebuah SMS dari Nico Pratama. Salah satu adik mentor Pena Bangsa YDSF. Nico adalah siswa SMP Unesa kelas 3 yang baru saja melewati ujian Nasional. SMS itu berbunyi, “Assalamu’alaikum. Mas Didin (Achmad Choiruddin, Red.), alhamdulillahberkat bimbingan dan doa Mas serta teman-teman saya lulus dengan nilai:
B.Indonesia  = 9,80
B.Inggris       = 9,80
Matematika   = 9,25
IPA                = 9,00–+
Total  37,85

Tak terbayangkan rasa mendapat SMS seperti ini. Teringat langsung sosoknya yang kurus kecil pemalu itu. Teringat rumahnya yang ukurannya tak lebih luas dari kamarku dan hidup di sana selama belasan tahun. Teringat akan rumahnya yang mengkombinasikan ruang tamu, ruang tidur, ruang tengah, dan dapur dalam satu ruangan kecil yang tak lebih luas dari kamarku di asrama PPSDMS itu.

Teringat akan cita-citanya menjadi seorang dokter yang tak sabar mengobati penyakit ibunya yang tak kunjung sembuh. Teringat semangatnya untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Teringat pula dengan diriku sendiri yang dulu pun bernasib tak terlalu berbeda dengannya.

Sangat senang ketika bisa sedikit bermanfaat bagi sekitar walau hanya mampu memotivasi untuk tak menyerah merah mimpi seperti lagu yang dibawakan NidjiLaskar Pelangi.

Salam sukses dokter kecilku. Kejar cita-citamu setinggi-tingginya. Titik kelulusan ini adalah awal bagimu untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Mari kita buktikan bersama kepada dunia bahwa kita juga layak untuk meraih cita-cita kita. We are what we think. We are what we believe.{}

Menyimak Hikmah di Balik Film Hafalan Sholat Delisha

Sumber : http://www.ydsf.org/komunitas/menyimak-hikmah-di-balik-film-hafalan-sholat-delisha

Siapa bilang mentoring itu membosankan? Setidaknya begitulah yang kami lakukan di Program Pena Bangsa, program pendidikan berkarakter bagi adik-adik yang mendapat beasiswa dari YDSF. Begitu pun dengan hari ini (12/8). Kami memulai pertemuan dengan hal yang (semoga) tidak membosankan. Di pertemuan kali ini empat tim mentor Pena Bangsa dari PPSDMS berkolaborasi untuk Nonton Bareng (nobar) Film berjudul Hafalan Sholat Delisha.

Setelah semua adik mentoring datang di Asrama PPSDMS Regional IV Surabaya Jl. Dharmahusada Utara No 39 Surabaya, maka Pak Ulil yang merupakan ketua tim mentor Pena Bangsa di PPSDMS bertindak sebagai pengarah kegiatan memulai kalimat pertamanya. Ia lalu membuka acara dengan tilawah dan bismillah agar kegiatan ini mendapat berkah.

Pak Ulil memulai pengantarnya dengan sebuah pertanyaan, “Siapa yang sudah shalat subuh hari ini?” Sontak adik-adik berjumlah 20an itu mengangkat tangan. Beberapa di antara mereka ada yang tak mengangkat tangan menandakan tak melalukan apa yang ditanyakan Pak Ulil. “Baiklah,” lanjut pak Ulil, “Berikut ini akan kita saksikan bersama sebuah film. Insya Allah film yang sangat menginspirasi.”

Begitulah kira-kira ucapan Pak Ulil membuka film Hafalan Sholat Delisha itu diputar. Film pun diputar memanfaatkan sebuah laptop, sound system, dan LCD menggunakan layar berupa kain spanduk.

Seperempat film sudah terlewati. Beberapa di antaranya ada yang mengusap wajah menghapus air mata. Ternyata ada yang terharu dengan kisah dalam film. Beberapa waktu di antaranya terdengar suara tawa menyaksikan tingkah lucu dari Delisha dan saudara-saudaranya. Tak terasa film pun sudah selesai diputar dan azan maghrib juga mulai dikumandangkan.

Akhirnya setelah selesai menyaksikan keseluruhan film, kami bersama-sama shalat maghrib berjamaah yang kebetulan saya pimpin.

“Bagaimana film tadi, Dik?” tanya saya kepada kelompok binaan saya setelah selesai shalat maghrib berjamaah dan pengelompokan sesuai kelompok masing-masing mentor. Beberapa di antaranya merasa terinspirasi dan berkomitmen untuk menjalankan shalat wajib dengan lengkap dan tepat waktu.

Saya sedikit memberikan sedikit ulasan cerita hikmah perjuangan Delisha dalam film tersebut dan berdiskusi hikmah apa yang bisa dijadikan pembelajaran bersama. Semoga kisah kecil nonton bareng ini menyulut api semangat untuk selalu berbuat kebajikan plus menjadi penyemangat diri untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah secara lengkap dan tepat waktu. Bagaimana tidak, Delisha saja bisa!{}

*oleh Achmad Choiruddin