Mimpi ke Lima sebelum Lulus Sarjana

Dulu aku mempercayai kekuatan mimpi. Seseorang yang mempunyai mimpi besar cenderung menimbulkan daya dorong internal untuk memotivasi merealisasikan mimpi tersebut. Tapi sekarang, aku tak sekedar mempercayai the power of dream, tapi aku sudah sangat tak meragukannya.

Bagaimana tidak, tiga tahun lalu, tahun 2010, mahasiswa Statistika ITS angkatan ke-dua tersebut memberanikan bermimpi konyol dengan menuliskan lima mimpi yang harus dicapai sebelum lulus Sarjana di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Mimpi pertama, memenangkan kompetisi tingkat Nasional, tidak sangka-sangka ia dapatkan pada tahun 2011 pada saat terpilih menjadi juara Olimpiade Statistika Nasional di UGM. Mimpi kedua, PIMNAS atau Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, telah berhasil dicapai pada tahun 2012 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Singkat kata, mimpi ke tiga dan ke empat yakni mendapat Indeks Prestasi Semester 4.00 dan menjadi tiga besar Mahasiswa Berprestasi ITS berhasil ia realisasikan tanpa ia kira sebelumnya di tahun 2013 menjelang kelulusan sarjananya. Dan mimpi ke lima, dapat pergi ke luar negeri, sama sekali tak disangka dapat terkabul dengan cara yang sangat indah melalui CISAK 2013 di Korea di ujung usia strata satunya, walaupun cukup berdarah-darah perjuangannya dalam mempersiapkan keberangkatannya. Dari sini ia benar-benar yakin dengan kekuatan mimpi. Yah, dia adalah aku. Achmad Choiruddin. Mahasiswa ITS yang dulu hampir tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi setelah SMA karena alasan yang sangat klasik. Dan tentu saja tak berhenti di sini mimpi ini. Mimpi selanjutnya adalah menjadi Lulusan Terbaik Master Ekonometrika di Prancis tahun 2014. Insyaallah akan bisa. We are what we think, we are what we believe.

DSC_4562Kali ini aku ingin bercerita terkait perjalananku di Korea selama 2 hari terakhir ini. Aku berangkat bersama Dita Amelia, Iis Dewi Ratih, dan Elvira Mustikawati Putri Hermanto. Kami berangkat tanggal 3 Juli keberangkatan Pukul 16.45 bandara Internasional Juanda dan tiba di Bandara Incheon (ICN) seoul Korea pada tanggal 4 juli pukul 8.20. Bagi kami, terutama saya, perjalanan pertama kali ke luar negeri ini sangat mengesankan. Saya benar-benar merasakan hangatnya persaudaraan di Negara dingin ini. Terang saja, mas Alfonsus, mas Adit, dan mas Hariste benar-benar totalitas membantu kami. Baru saja tiba di terminal Busan, mas Alfon sudah siap siaga disana dan langsung mengajak kami makan. Dan tentu saja saya mengatakan totalitas baiknya karena tidak hanya diberi petunjuk jalan, dijemput, tapi juga ditraktir makan. Tidak hanya itu, kami dicarikan tempat menginap yang aman, sangat murah (khusus untuk saya gratis karena menginap di mas Adit dan mas Hariste), dan nyaman. Pada saat itu memang sampai di Busan menjelang matahari terbenam karena perjalanan Seoul-Busan memakan waktu hingga enam jam, sehingga belum memungkinkan bagi kami untuk keliling Busan.

DSC_4681Esoknya, hari kedua kami di Korea, mas Alfonsus sudah siap untuk menjamu kami mengelilingi Busan. Yah, ditengah kesibukan pada program doktoralnya beliau sengaja mengosongkan agenda untuk kami. Demi apa coba? (*hehe). Kami diajak berkeliling kampus PNU (Pusan National University), mencoba makanan korea yang tak tahu namanya apa bersama dengan teman baru asli korea, namanya Eun Young Kim dan 윤민석. Mereka sangat asik, bersahabat, dan hangat. Aku (lagi-lagi) merasakan nuansa persaudaraan di Negara orang ini. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari sistem pendidikan di PNU, kondisi alam korea dibandingkan Indonesia, makanan korea, film korea, tempat-tempat yang direkomendasikan di Indonesia (ceritanya mereka berdua excited berkunjung ke Indonesia), nyanyi-nyanyi bareng hingga mengajari mereka bahasa Indonesia dan Madura. Hehehe. sangat senang melihat mereka excited belajar bahasa kami.

DSC_4732Selanjutnya kami mengunjungi pantai di Busan (Haeundae Beach) dan Busan Aquarium. That is really nice. Pantainya, anginnya, pasirnya, suasananya, semuanya. Saya sangat merasa benar-benar bersyukur dan beruntung ditemani jalan-jalan mas Alfonsus menikmati dan menjelajah Busan. Many thanks deh pokoknya. Insyaallah besok kami akan berangkat ke Daejeon untuk melakukan field trip di ETRI, Electronics and Telecommunications Research Institute, National Science Museum, dan Ppuri Park. Semoga perjalanan besok membawa berkah dan bermanfaat. Bismillah.

Advertisements

ITS Heroes Award, Sisakan Tiga Kandidat

Sumber : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=11927

Link Video : http://www.youtube.com/watch?v=M-HptF8TCCQ

ITS Heroes Award atau yang sebelumnya dikenal dengan Kompetisi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) telah memasuki tahap akhir. Melalui serangkaian seleksi yang ketat, terpilih masing-masing tiga mahasiswa dari tingkat sarjana dan diploma, (Sabtu, 13/4). Mereka pun masih harus berkompetisi untuk bisa menjadi wakil ITS di ajang Mawapres Nasional.
Ruang Sidang FTI, ITS Online – Tiga mahasiswa terpilih dari tingkat sarjana adalah Yolanda Putri Yuda dari Jurusan Sistem Perkapalan, kemudian Achmad Choiruddin dari Jurusan Statistika dan terakhir Lisana Shidqina dari Jurusan Arsitektur. Sedangkan mahasiswa terpilih tingkat diploma adalah Nur Silviyah Rahmi dari DIII Statistika, Eduard Wahyu R dan Sri Wahyuni yang berasal dari DIII Teknik Mesin.Achmad Ferdiansyah Pradana Putra ST MT, ketua panitia seleksi menjelaskan bahwa proses pemilihan Mawapres ITS kali ini cukup berbeda. Pasalnya, setiap kandidat turut diwajibkan membuat video profil. ”Tak hanya berisi perkenalan diri, video juga memuat penjelasan karya tulis dan ajakan untuk mendukung si kandidat menjadi mawapres. Semua disajikan dalam bahasa Inggris,” terang Ferdi.

Lebih jauh, Ferdi mengungkapkan bahwa proses pemilihan menjadi tiga besar ini terbilang sulit. Hal ini karena setiap kandidiat memiliki kualitas yang bagus serta keunggulan masing-masing.

Ia menjelaskan bahwa penilaian seleksi Mawapres kali ini menekankan pada karya tulis, kemampuan bahasa inggris dan prestasi yang diunggulkan. ”Selain itu, penilaian dari tim Psikologi saat diskusi juga memberikan pengaruh,” lanjut Alumnus Teknik Kimia ITS ini.

Guna mempersiapkan ke tahap berikutnya, setiap kandidat akan mendapatkan bimbingan karya tulis, pembinaan kemampuan bahasa Inggris serta eksplorasi terhadap prestasi masing-masing. Mereka juga akan mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan diri di ITS Expo tanggal 24 April mendatang.

Untuk itu, Ferdi menyarankan agar setiap kandidat membawa masa pendukungnya masing-masing. ”Misalkan membawa masa dari BEM atau himpunan jurusan,” pungkasnya.(akh/ran)

Kandidat ITS Heroes Ramaikan ITS Expo

Sumber : http://its.ac.id/berita.php?nomer=11988Menginjak hari ke tiga pagelaran, ITS Expo tetap dipadati pengunjung. Salah satu sorotan utama pada Selasa (24/4) adalah presentasi dari tiga kandidat ITS Heroes S1 dan tiga kandidat ITS Heroes D3. Elu-eluan pendukung dari masing-masing kandidat saat melakukan presentasi pun menambah kemeriahan even akbar ITS ini.

Graha ITS, ITS Online – Dengan berbalut jas almamater satu per satu kandidat ITS Heroes pun menampilkan kebolehannya dalam hal presentasi. Sorot mata pun langsung tertuju saat mereka mulai memperkenalkan hasil karya ilmiah yang menjadi andalannya.”Sangat kreatif pemilihan mawapres kali ini,” sahut Dr Ir Bambang Sampurno MT usai menjadi juri presentasi ITS Heroes Award Show. Menurutnya sistem pemilihan mawapres yang dilakukan saat ini lebih terbuka dari pada sebelumnya. Ia pun mengaku bangga karena kualitas mawapres ITS semakin hari semakin baik.

Bambang pun menerangkan akan pentingnya belajar dari banyak aspek bukan hanya dari bidang akademis saja. Pasalnya, kepercayaan diri untuk tampil di depan umum dan jiwa kepemimpinan merupakan hal-hal yang juga harus dimiliki mahasiswa.

”Seimbangkan porsi akademis dan berorganisasi. Kami ingin mahasiswa ITS bisa menikmati posisinya sebagai mahasiswa dan bisa menjadi sesuatu yang lebih,” lanjut Bambang.

Tak hanya presentasi ilmiah, kemampuan berbahasa Inggris pun diuji pada kesempatan tersebut. Di akhir sesi presentasi, panitia membacakan vote video terbanyak sementara. Mereka juga menghimbau pengunjung untuk memberikan vote kandidat ITS Heroes yang didukungnya hingga Kamis (25/4).

Hasil sementara poling vote terbanyak untuk ITS Heroes S1 ditempati oleh Yolanda Putri Yuda dari Jurusan Sistem Perkapalan, Achmad Choiruddin dari Jurusan Statistika, dan Lisana Shidqina dari Jurusan Arsitektur. Sedangkan untuk D3 untuk sementara ditempati oleh Sri Wahyuni, Eduard WR, dan Silviyah Rahmi. (sha/izz)

ITS Beri Sentuhan Modern dalam Makanan Lokal

Sumber : http://kampus.okezone.com/read/2013/01/15/373/746743/its-beri-sentuhan-modern-dalam-makanan-lokal


JAKARTA –
Kuliner dapat menjadi ciri khas bagi suatu daerah untuk menarik perhatian wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Berangkat dari keinginan untuk melestarikan makanan daerah Sidoarjo, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan inovasi yang menuai prestasi.
Adalah Achmad Choiruddin (Statistik), Putri Ika Wahyu Retno Juwita (Teknik Mesin), dan Kurniasari Aisyiah (Statistik) yang mencoba mengemas makanan khas Sidoarjo, Lontong Kupang dalam versi modern dan bernilai ekonomi tinggi. “Saya ingin mengangkat citra kupang sebagai oleh-oleh khas Sidoarjo,” tutur Didin, panggilan sapaannya, seperti dilansir dari ITS Online, Selasa (15/1/2013).

Apa itu kupang? Kupang merupakan kerang laut dengan ukuran yang seperti beras. Bagi masyarakat Sidoarjo, Lontong Kupang menjadi makanan utama yang disuguhkan bagi pendatang. Sayangnya, Lontong Kupang bukan makanan tahan lama sehingga tidak mampu dibawa sebagai oleh-oleh. Maka, tiga sekawan ini melakukan inovasi kuliner berupa Kupang Sambal Goreng Sidoarjo (Kusagosi).

Racikan kupang bersama bumbu rempah lainnya mampu menciptakan cita rasa yang mengejutkan. Sambal goreng ini pun diolah dalam bentuk kering yang dapat dimakan sebagai lauk pauk dan lebih tahan lama.

Bahkan, inovasi tiga sekawan ini mendapat juara dua dalam Indonesian Youth Science Meeting (IYSM) besutan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Tidak puas hanya sampai di situ, Didin pun berencana menindaklanjuti inovasi kuliner tersebut.

“Kami akan mulai memberdayakan masyarakat Sidoarjo untuk mengolah Kusagosi serta membuka pemasaran atas produknya. Harapannya, kupang mampu dikenal di daerah lain sebagai oleh-oleh yang memiliki cita rasa khas,” tutupnya.

Juarai Karya Tulis dengan Presentasi Unik

Sumber : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=9493

Tiga orang mahasiswa dari Sidoarjo bersama menulis sebuah karya ilmiah yang mengangkat potensi daerah mereka. Grup tersebut terdiri dari Kurniasari Aisyiah dan Achmad Choiruddin, dua orang mahasiswa Statistika serta Putri Ika Wahyu Retno Juwita, mahasiswa Teknik Mesin. Karya tulis ini berhasil memenangkan juara tiga lomba MITI Paper Challenge (MPC) yang diadakan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Kampus ITS, ITS Online – Tahun ini, lomba tersebut mengangkat tema Rekayasa Potensi Lokal/Sumber Daya Alam Sebagai Basis Ekonomi untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Pesertanya mencapai 103 orang dari seluruh Indonesia.

Karya tim dari ITS ini berjudul Sa-Go-Ku (Sambal Goreng Kupang): Kreasi Makanan Identitas Kabupaten Sidoaro sebagai Alternatif Pemberdayaan Masyarakat di Pasar Baru Porong. ”Karya tulis kami ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Porong, khususnya korban-korban lumpur Lapindo,” jelas Kurniasari.

Perjuangan Kurniasari, Achmad, dan Putri mengikuti lomba ini ternyata tidak luput dari rintangan. Mereka sempat kesulitan untuk mendapatkan tanda tangan Pembantu Rektor I, Prof Dr Ir Ing Herman Sasongko. Padahal, hal itu termasuk dalam persyaratan administrasi lomba. ”Tapi alhamdulillah, batas waktu pengumpulannya diundur,” tutur Kurniasari.

Mereka pun lulus tahap adminitrasi untuk mengikuti penentuan 10 besar finalis. Seleksi tersebut dijadwalkan pada hari Minggu (27/11) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Di sana, mereka harus mempresentasikan karya tulis mereka di hadapan para dewan juri.

Sa-Go-Ku menjadi satu-satunya wakil dari ITS. Ini membuat mereka semakin bersemangat. Mereka merasa bertanggung jawab untuk membawa nama ITS.

Sebenarnya, mahasiswa Statistika angkatan 2010 ini mengaku, kualitas paper mereka kurang maksimal. ”Makanya, kita presentasinya heboh, seunik mungkin. Pembukaannya pakai video, penutupannya kita menyanyi,” tambahnya. Mereka juga membuat logo, pin dan poster yang berkaitan dengan karya tulis mereka.

Melalui presentasi yang unik tersebut, mereka berhasil menarik perhatian para juri. Meskipun awalnya, mereka sempat ditertawakan oleh para finalis lain. Namun, ternyata presentasi mereka itulah yang berhasil membuat mereka meraih predikat juara ketiga.

”Saya bangga bisa berprestasi. Selain itu saya bisa jalan-jalan dan kalau menang dapat duit,” ungkap Kurniasari ketika ditanya motivasi mengikuti lomba. Achmad pun menambahkan, bahwa lomba tersebut telah turut menambah wawasan serta teman.

Sudah Terbiasa Menulis

Kurniasari sendiri aktif menulis. Mahasiswa yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini pun mengaku bercita-cita menjadi seorang penulis. Achmad pun begitu. ”Tulisan itu membedakan kita dengan makhluk pra sejarah,” jelasnya.

Selain menulis karya ilmiah, Kurniasari juga gemar menulis esai-esai pribadi sejak sekolah menengah atas (SMA). Ia juga sangat menyukai tulisan karya Asma Nadia. Menurutnya, bahasa penulis tersebut lugas dan bisa menginspirasi semua kalangan.

Menurut Kurniasari, menulis merupakan cara untuk berbagi pengalaman serta inspirasi bagi orang-orang yang membacanya. ”Lewat tulisan kita abadi,” ujarnya. (fen/lis)

Tiga Mahasiswa ITS Ciptakan Kalender Peramal Cuaca

Sumber : http://surabaya.detik.com/read/2012/07/22/131642/1971576/466/tiga-mahasiswa-its-ciptakan-kalender-peramal-cuaca

Surabaya – Kegagalan panen akibat cuaca yang tak bisa diprediksi membuat 3 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan kalender peramal curah hujan. Dengan menggunakan sistem SARIMA (Seasonal Autoregressive Integreted Moving Average) dengan deteksi nilai ekstrim, 3 mahasiwa jurusan statistika ini mengklaim alat ciptaannya mampu meramal cuaca.

“Alat ini memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dari metode pendahulunya yakni ARIMA (Autoregresive Integrated Moving Average,” kata salah satu mahasiswa, Ari Miftahul Huda kepada detiksurabaya.com di kampus statistika ITS, Minggu (22/7/2012).

Ari menjelaskan penggunaan kalender ini berbeda dengan penggunaan kalender yang selama ini digunakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). BMKG selama ini menggunakan data bulanan sementara kalender ini menggunakan sistem seasonal yang memerlukan waktu 10 hari untuk membuat ramalan cuaca.

Secara hitung-hitungan, kata Ari, bisa dikatakan kalender yang diciptakannya bersama Achmad Choiruddin dan Osaliana Budiarto ini memiliki jumlah data yang lebih banyak. Bila sistem ARIMA hanya memakai 12 data saja dalam setahun, maka data yang diperoleh pad asistem SARIMA dapat mencapai 36 buah dengan asumsi dalam satu bulan terdapat 30 hari dan dalam satu tahun terdapat 12 bulan.

“Kita mencoba membuat permulaan ramalan dengan memprediksi curah hujan yang terjadi pada tahun 2011 dengan menggunakan data statistik curah hujan yang berlangsung selama kurun waktu 1990-2010,” terang mahasiswi yang sedang menjalani sidang skripsi ini.

Hasilnya adalah terdapat perbedaan data yang begitu tipis dengan fakta yang dialami. Hal ini terjadi karena data asli dari kejadian pada tahun 2011 silam sudah dimiliki. Atas dasar itulah 3 mahasiswa ini mencoba membuat peramalan di tahun 2012.

“Kami memiliki data saat itu sampai Februari 2012, ternyata ketika menjalani ramalan itu sampai bulan Juni ini, para petani Desa Pungging, Mojokerto tempat kami melakukan uji coba menyebutkan terdapat kesamaan yang terjadi antara fakta dan ramalan,” pungkas Ari.

Dengan hasil yang cukup memuaskan ini mereka mengharap agar ke depan metode ini dapat digunakan oleh Dinas Pertanian setempat. Harapan Ari beralasan karena temuan ini mampu meraih The Best Presentator dalam ajang National Youth Scientist Conference di Institut Pertanian Bogor (IPB) 26 Mei 2012 silam.

“Semoga metode ini bisa diterapkan segera oleh pemerintah setempat karena mereka yakin metode ini dapat dijadikan solusi dalam memperkirakan curah hujan secara lebih akurat,” tandas Ari.

(bdh/bdh)