3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: Ending

“Anda menyampaikan terkait kasus p>>n. Yang dimaksud dengan “n” disini apakah jumlah points atau bagaimana?” Tanya Ege rubak yang merupakan penanya terakhir dari sesi presentasiku.

“Mungkin bukan sepenuhnya bermakna demikian. Jika kita meninjau pada kasus generalized linear models misalnya, maka “n” dapat kita definisikan sebagai jumlah observasi. Namun pada kasus ini, “n” tidak sepenuhnya analog dengan jumlah points.” Aku sedikit menunjukkan kembali slide presentasiku yang menceritakan histori penggunaan metode regularisasi pada kasus regresi linear yang diadaptasi pada estimasi intensity dari spatial point processes. Diskusipun menjadi lebih seru saat Prof Rasmus ikut mengomentari pertanyaan Ege rubak. Ege rubak merupakan salah satu penulis buku Spatial Point Patterns: Methodology and Applications with R. Selain Ege rubak, ada pula Jannine Illian (salah satu penulis buku Statistical Analysis and Modelling of Spatial Point Patterns), Frédéric Lavancier, dan Rasmus Waagepetersen (salah satu penulis buku Statistical Inference and Simulation for Spatial Point Processes) yang sebelumnya telah mengajukan pertanyaan dan komentar kepadaku.

“Baiklah. Jika sudah tidak ada tanggapan dan pertanyaan, kami ucapkan terimakasih sekali lagi kepada Achmad atas presentasinya yang berjudul Convex and non-convex regularization methods for intensity estimation of inhomogeneous spatial point processes. Selanjutnya adalah cofee break. Kita akan memulai kembali sesi berikutnya pada pukul 15.00.” Moderator acara menutup sesi ini dan memberikan arahan agenda selanjutnya. Aku kembali menempati kursiku sambil mengelap butir-butir keringat yang secara otomatis keluar dari dahi. Akhirnya aku selesai menjalankan tugasku dengan cukup baik.

Hampir seluruh peserta workshop keluar ruangan untuk menikmati cofee break yang hanya 15 menit tersebut, sedangkan aku masih merapikan beberapa berkas, sampai akhirnya ada seseorang yang menghampiriku. Aku menoleh kepadanya sambil berusaha menahan diri dari keterkejutan karena sosok yang mendatangiku tersebut adalah Prof Rasmus Waagepetersen. Ia tersenyum kepadaku, sedangkan aku hanya bisa salah tingkah. Aku gugup.

It is an interesting approach.” Bukanya

“Terimakasih. Jeff dulu menawarkan topik riset S3 ini, dan aku pikir, penelitian ini akan menarik dan menantang. Aku juga membaca beberapa paper dan buku-mu. It helps a lot.” Jawabku. Sedikit demi sedikit aku dapat mengontrol diri dari perasaan gugup berhadapan dengan penulis idola. Kami berdua akhirnya menuju tempat cofee break bersama-sama sambil meneruskan perbincangan singkat. Ya Allah.. ini baru bertemu manusia biasa saja sudah seperti ini perasaannya. Bagaimana nanti rasanya saat kau perkenankan aku bertemu dengan baginda nabi Muhammad SAW.

************************

“Kalian sudah siap?” Tanyaku kepada Marco dan Sandra.

“Yup.” Jawab mereka hampir berbarengan. Aku, bersama dengan Marco dan Sandra, berjalan dari hotel menuju restoran tempat kami diundang untuk makan malam bersama. Agenda makan malam ini hanya diperuntukkan untuk tamu undagan, jadi jumlah yang datang pasti lebih sedikit dari jumlah yang hadir dalam workshop.

“Tadi presentasi kamu sangat bagus. Sepertinya kamu sudah sering melakukan presentasi ya..?” Tanya Sandra di sela-sela perjalanan kami.

“Ah.. masa sih? Padahal aku sedikit gugup saat di depan tadi. Presentasi kalian juga bagus tadi. Tapi aku cuma bisa memahami sebatas motivasi penelitiannya saja. Bagian detailnya aku sama sekali tidak mengerti.” Jawabku

“Iya. Dari segi pemaparan dan organisasi slides kamu cukup mudah dipahami. Kata advisorku, suaraku tadi teralu pelan, lain kali sepertinya perlu kuberbaiki. Anyway, aku pernah ke Malaysia sekitar 10 tahun lalu. Malaysia dan Indonesia bukannya dekat ya?” Tanya Sandra mencoba mengganti topik perbincangan. Usaha Sandra cukup berhasil karena topik perbincangan kami akhirnya membahas tentang bermacam-macam budaya di Indonesia, Swedia, dan Italia.

Kami tiba di restoran 5 menit lebih awal dari jadwal yang sudah disepakati. Setelah beberapa menit menunggu, kami akhirnya dipersilakan untuk masuk. Sebenarnya aku ingin duduk bersama Christophe, Melisande, dan Jeff dinner kali ini, namun aku belum melihatnya di restoran, jadi aku duduk satu meja bersama Sandra dan Marco. Meja tersebut berbentuk persegi dan dapat diisi oleh 6 orang. Kami bertemu Amanda di dalam, dan memutuskan untuk duduk ber-empat. Marco duduk di sebelah kananku, sedang Sandra dan Amanda duduk berhadapan dengan kami. Dua bangku kosong masih tersisa di sebelahku.

Tamu undangan lain pun mulai berdatangan, diantaranya ada Jeff, Christophe, Melisande, dan Ege yang duduk satu meja. Dalam hati aku berharap bisa duduk satu meja dengan mereka. Beberapa menit kemudian, Frédéric dan Rasmus masuk ke dalam restoran dan mendongakkan kepala mencari tempat yang masih kosong. Rasmus melihat ke arah meja kami, dan aku hanya bisa berdoa dalam hati agar mereka berdua memilih bergabung bersama kami ber-empat. Rasmus dan Frédéric berjalan perlahan ke arahku, mereka berdua menyapa kami, dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kami. Aku duduk satu meja, bahkan tepat bersebelahan, dengan Prof Rasmus yang fenomenal itu. Kami menjadi banyak berbincang selama makan malam. Terimakasih Ya Allah atas settingan yang engkau atur ini….

******************************

Jeff berjalan menuju mejaku. Ia ada perlu dengan Frédéric yang duduk semeja denganku. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepadaku sambil bertanya, “Achmad, how was your dinner?”

That was great!” Jawabku. “The food is good and also there is Rasmus beside me. I got a lot of things.” Jawabku sambil memperhatikan ekspresi Prof Rasmus yang sedang tersenyum. “Yes. absolutely.” Jawab Jeff. Jeff akhirnya kembali lagi ke mejanya setelah urusannya dengan Frédéric selesai. Kami mengakhiri makan malam kali ini. “Rasmus, terimakasih atas sharingnya. That was a great dinner.” Kataku mengakhiri perbincangan. “Sama-sama, Achmad. I also enjoyed the dinner. Hope to see you again at another conference or workshop.” Ucap Prof Rasmus.

******************

#Hari 3

“Selamat ya ayah.. banyak- banyak bersyukur atas kesempatan ini…” Ucap istriku saat kutelepon sambil menikmati sarapan.

“Insyaallah, say.. Terikamasih ya sudah mengingatkan ayah. Ayah nggak nyangka banget bakal bisa mendapat kesempatan ini semua. Awalnya ayah hanya berekspektasi akan bisa berbincang dengan Ege Rubak, saja. Namun Allah menakdirkan lain dengan cara-caranya yang tak terduga, mulai dari tak sengaja duduk tepat di sebelah Janine Illian di hari pertama hingga duduk bersebalahan dengan Rasmus Waagepetersen saat makan malam.”

“Yah, nanti kalau ada kesempatan, coba minta foto bareng dengan Prof Waagepetersen, yah…”

“Wah… Pengen sih, tapi sungkan say.. Apalagi budaya foto-foto juga gak terlalu eksis di sini kan.. Selama acara lo ndak ada foto-foto sama sekali.. Tapi pengen sih kalau ada kesempatan.. Doanya ya semoga ada kesempatan ya say…. hehe.. Ya sudah, ini ayah harus segera siap-siap untuk berangkat ke tempat workshop ya.. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam 🙂 “

Advertisements

One thought on “3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: Ending

  1. […] istri karena kekaguman kepada beliau secara akademis dan persona. Pernah bertemu sekali pada saat konferesi, dan saat itu pula langsung bercita-cita untuk bisa post-doc dengan beliau. Sayangnya, kesempatan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s