3 penulis, 3 buku, 3 hari workshop, dan 3 catatan mahasiswa bau kencur: bagian 2

“Baiklah para hadirin. Selanjutnya adalah cofee break untuk 15 menit. Kita akan memulai kembali pukul 11.00.” Salah satu panitia acara memberikan arahan kepada kami. Mataku menuju satu sosok yang sudah kuincar sejak tadi: ege rubak, penulis buku berjudul Spatial Point Patterns: Methodology and Applications with R. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang, mencari momen yang pas untuk bisa menemuinya sekaligus sedikit berbincang dengannya.

“Halo pak ege rubak.” Sapaku kepadanya saat ia mengambil snack. Ege rubak menoleh kepadaku. “Nice to meet you. Aku achmad, PhD student-nya Jeff.” Imbuhku.

“Hi, Achmad. Nice to meet you, too. Ngomong-ngomong, terimakasih atas komen dan masukannya untuk buku kemarin.” Jawabnya.

“Semoga berkenan. Walaupun komenku pasti bukan apa-apa. Tapi bukunya bagus banget. Aku sangat suka. Kemarin Jeff membelikan buku itu buat aku. Dia baik banget.”

“Benarkah? syukurlah jika kau dapat menikmati bukunya. Anyway, PhD kamu tentang apa?” Obrolan kami pun semakin mengalir. Aku senang aku dapat memanfaatkan 10 menit waktu break ini untuk berdiskusi ringan dengan salah satu penulis idolaku.

*****************************************************

“Achmad, kamu berencana langsung balik ke hotel sekarang?” Tanya Marco, PhD student di Swedia yang kebetulan menginap di hotel yang sama denganku. “Jika iya, kita bisa naik bus bersama menuju hotel, bersama Sandra dan yang lainnya juga.” Tambahnya.

“Ok. baiklah. Aku ada perlu sebentar dengan Melisande, 5 menit lagi aku menyusul ya. Terimakasih.” Jawabku.

Setelah urusanku dengan Melisande selesai, aku menuju Sandra, Marco, dan Amanda. Amanda merupakan PhD student dari Brazil yang melaksanakan riset PhD-nya di Denmark. Kami berempat menuju tempat pemberhentian bus untuk menuju hotel. Aila, PhD advisor Marco ternyata juga bersama-sama dengan kami mengincar bus yang sama. Kemudian, disusul oleh salah seorang pak tua dari Finlandia dan Janine Illian yang ternyata juga mengambil bus yang sama. Kami bertujuh menuju tempat pemberhentian bus.

“Hari ini lumayan menarik ya..” Buka Sandra.

“Iya. Aku senag dengan workshop ini. Kamu dan Marco akan presentasi besok, ya?” Tanyaku.

“Iya. Aila dan Janine juga akan presentasi besok.” Jawab Sandra.

Di dalam bus, aku kebetulan berdiri disamping Janine. Akhirnya kumanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit mengobrol dengan beliau. Janine adalah sosok yang ekspresif, humble, namun sangat cepat dalam berbicara. Maklum, dari UK. Kami sama-sama memiliki putra yang masih bayi. Obrolan kami di dalam bus justru habis membahas tentang anak kami masing-masing ketimbang membahas tentang statistics.

#Hari ke 2
Satu per satu pembicara telah mempresentasikan karyanya. Semakin mendekati jatahku, jantungku berdebar semakin cepat. Aku mengirim pesan kepada istriku untuk meminta semangat. “Banyak-banyak membaca bismillah dan sholawat, Ayah.. Inshaallah dilancarkan…” begitu ungkapnya.

“Pembicara berikutnya adalah Achmad dari Universitas Grenoble Alpes, yang akan mempresentasikan karyanya berjudul Convex and non-convex regularization methods for intensity estimation of inhomogeneous spatial point processes“. Moderator memberikan tanda kepadaku untuk segera menempati posisi. Jantungku berhenti sejenak dan tubuhku seperti melayang entah kemana, sebelum akhirnya aku memaksakan untuk berdiri tegak menuju tempat presentasi. Aku melangkah ke depan audiens sambil memaksakan sebuah senyuman ringan. Aku melakukan presentasi di depan Prof Rasmus, ege rubak, Janine, dan segenap wajah peneliti spatial statistics dari seluruh penjuru eropa.

“Terimakasih, Achmad. Selanjutnya dipersilahkan kepada audiens jika memiliki pertanyaan atau komentar.” Tawar sang moderator setelah aku mengakhiri presentasiku yang berdurasi 25 menit itu. Kudongakkan kepalaku, penasaran jika ada satu atau dua audiens yang cukup tertarik dengan topik penelitianku.

Bukan. Bukan satu atau dua tangan yang mengacung. Ada empat: Frederic lavancier, Ege rubak, Janine Illian, dan Rasmus Waagepetersen. Mereka berempat mengacungkan tangannya untuk presentasiku. Bahkan ketiga penulis idolaku mengacungkan tangannya. Oh… Apalagi ini ya Allah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s