Ternyata Konferensi Internasional itu………

International conference. Bagi mereka yang pertama kali menjalani, sepertinya tidak salah jika hati berdegub keras saat mendengar istilahnya. Apalagi jika dihelat di luar negeri. Bagi yang sudah biasa menjalani, who knows. Pada tahun 2013, saat itu masih menyandang status mahasiswa S1 sekaligus S2 (karena saat itu sedang menjalani status sebagai mahasiswa fast-track), aku sempat mendapat kesempatan untuk menghadiri sebuah “konferensi internasional” di korea selatan, sebagai peserta sekaligus salah satu presenter, yang ternyata tidak seperti ekspektasiku, dimana “konferensi internasional” itu tak ubahnya seperti seminar di jurusan sendiri. Kutanyakan kepada beberapa rekan yang juga hadir waktu itu, dan pendapat mereka pun tak jauh beda dengan pandanganku. Tapi tak apalah. Perjalanan pertama kali ke luar negeri pasti selalu mengesankan, bukan? Begitu pula saat itu.

Terdapat sebuah cerita menarik tentang “konferensi internasional” dari salah seorang penulis (karena lupa sumbernya, jadi tidak disampaikan disini. Suatu saat mungkin akan di-update jika menemukan sumbernya). Kadang kita terlampau bahagia atas email bertajuk “acceptance letter” atas diterimanya paper kita untuk dipresentasikan pada sebuah “konferensi internasional”. Sudah terlampau banyak mengeluarkan energi, mulai dari mencari sponsor pendanaan kesana kemari (yang tentu saja harus membuat proposal terlebih dahulu), merevisi paper atas saran reviewer, sampai mempersiapkan banyak hal terkait teknis keberangkatan, namun hasil konferensinya ternyata tidak seperti yang diekspektasikan. Namanya “international conference”, dihelat di luar negeri, paper yang dikirim harus berbahasa inggris, tapi forum (baik presentasi global di teater amphi maupun per kluster) dalam bahasa indonesia. Hahay. Silahkan tersenyum kecut jika itu terjadi.

Tulisan ini tidak banyak membahas tentang hal tersebut. Hanya saja, beberapa waktu lalu, tepatnya 24-28 agustus 2015, aku (yang saat ini sedang menjalani tahun pertama S3 di Prancis) mendapat kesempatan sekali lagi untuk mempresentasikan hasil risetku selama tahun pertama dari  (yang insyallah) tiga tahun PhD research-ku. Karena peserta yang hadir dalam konferensi ini adalah  mahasiswa PhD sampai profesor tingkat dewa, forum dalam bahasa inggris, dan topik konferensi yang cukup spesifik (walaupun definisi spesifik juga masih subjektif), ada beberapa hal menarik yang aku temukan dan ingin aku bagi.

1. Presentasi (ternyata) tidak hanya menyajikan karya

Saat menjadi mahasiswa S1 dulu, alhamdulillah sempat berpartisipasi pada sekitar 10 presentasi makalah ilmiah dalam kompetisi karya tulis ilmiah. Saat itu, ingin sekali rasanya menunjukkan kepada seluruh audiens dan para dewan juri, betapa hebatnya metode/pendekatan/solusi yang kami tawarkan terhadap permasalahan yang kami angkat. Jika ada pertanyaan dari dewan juri, dengan lantang dan penuh percaya diri kami menjawab semua pertanyaan, ingin menunjukkan bahwa kami tahu segala hal tentang permasalahan yang ingin kami pecahkan. Apalagi saat didapuk sebagai salah satu juara, rasanya seperti semua masalah bisa terpecahkan dengan pendekatan yang kami ajukan. Selalu hanya bisa tertawa lepas mengingat masa-masa itu.

Seiring berjalannya waktu, bukannya merasa makin pintar tentang statistika, kok rasa-rasanya seperti semakin merasa tidak tahu apa-apa ya… padahal sudah kuliah S1 selama 4 tahun, S2 selama 2 tahun, dan S3 sudah hampir setahun. Semuanya adalah perkuliahan statistika (maksudnya, saya tidak pernah mengambil studi ilmu sejarah atau hukum internasional, semuanya linier). Itu baru kuliah formal. Kuliah umum atau kuliah tamu saat S1 atau S2 dan seminar probability and statistics mingguan di Lab saat S3 belum kuhitung.

Tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, dalam konferensi internasional yang kuikuti kemarin, tak sedikit speakers (bahkan profesor senior sekelas Wilfrid Kendall) yang malah juga men-share permasalahan penelitian yang mereka hadapi, berharap terdapat audiens yang akan memberi masukan. Pun saat beberapa audiens bertanya, beberapa profesor malah menjawab “i don’t know“, walau disisipi ” you may …” yang menyatakan adanya beberapa direction yang mungkin bisa dilewati, namun hasilnya belum bisa ia jamin. Jadi, sepertinya benar adanya peribahasa tentang ilmu padi.

2. Profesor senior pun tidak seperti yang kubayangkan

Anda mungkin mengenal berberapa nama penulis buku ilmiah mengenai bidang Anda. Pada bidang spatial statistics and stochastic geometry misalnya, nama Wilfrid Kendall, Robert Adler, Jesper Moller, dan Noel A. C. Cressie sepertinya sudah tak begitu asing. Jika membaca bukunya saja sudah terkagum-kagum, bagamana membayangkan melihat wajah seorang profesor senior dari negeri seberang tersebut? apalagi bisa berdiskusi dengan beliau?

Pada saat Robert Adler menyampaikan kuliahnya, Wilfrid Kendall sesekali memberikan komentar pada apa yang disampaikan Robert. Sampai-sampai Robert berkelakar “Wah, aku harus bicara dengan hati-hati nih sekarang, dibelakang sana sudah ada yang siap mengoreksiku”. Sambil kemudian disusul oleh gelagak tawa audiens. Pertarungan sengit antar dua singa, kira-kira begitulah gambarannya.

Bagaimana jika denganku? Sungguh, bayangan pertama saya adalah seperti kucing baru lahir bertemu dengan singa jantan dewasa yang sedang kelaparan. Jadi ceritanya, saat sesi mini city tour, kami dibagi dalam dua kelompok, kelompok yang bisa berbahasa prancis dan kelompok yang berbahasa inggris. Karena aku lebih paham bahasa inggris ketimbang bahasa prancis, dan dua teman dekatku di konferensi itu tidak bisa berbahasa prancis (satu berasal dari austria, dan yang lain dari denmark), jadinya aku bergabung dalam grup tour berbahasa inggris. Tentu saja, Prof Kendall yang dari UK tersebut juga masuk dalam grup kami.

Dalam perjalan tour tersebut, aku berkesempatan untuk sedikit berdiskusi dengan prof Kendall. Awalnya aku ragu, karena jika berdiskusi tentang bidang ilmu, apalah yang bisa kami diskusikan. Ternyata eh ternyata, beliau itu luar biasa bersahaja dan ramah. Bahan diskusinya pun terkait hal yang ringan-ringan, meski berdiksusi tentang topik penelitianku.

3. Ada udang dibalik obrolan makan siang para profesor

Makan siang adalah sesi yang menyenangkan, selain menu makan yang terdiri dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup tentunya (*hehehe). Dalam sesi makan siang sebuah konferensi internaional, apapun bisa terjadi, terutama menjalankan misi. Dari empat kali makan siang dan tambahannya (8 kali coffee break, sekali cocktail party, dan sekali dinner), setidaknya aku menemukan visi terselubung dibalik para dosen dan profesor yang hadir dalam konferensi tersebut : berdiskusi tentang penelitian (terutama berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi, biasanya diskusi terbuka tidak cukup waktunya jadi lebih sering dilakukan pada sesi break) dan mencari kandidat mahasiswa mereka. Dan tentu saja, aku senang karena menjadi salah satu target salah satu visi sang profesor tersebut, walau masih terlalu dini.

Suatu siang di meja makan, aku duduk dengan temanku dari Austria dan didepanku (kebetulan) terdapat profesor dari Swedia. Kami berdiskusi banyak hal, mulai dari iklim pendidikan di negara masing-masing, budaya, sampai pada riset penelitian S3 kami (aku dan teman austria-ku). Eh, sang prof ternyata memiliki sedikit ketertarikan dengan topik risetku. Aku sempat memancing “Wah, aku bisa jadi mahasiswa Post-Doc kamu nih pak setelah selesai PhDku”. Beliau hanya tersenyum, dan kemudian berkelakar “Wah, setelah konferensi ini, sepertinya aku akan mendapat mahasiswa Post-Doc nih..” Kami pun tertawa bersama-sama.

Advertisements

One thought on “Ternyata Konferensi Internasional itu………

  1. rahenda says:

    wah sudah dapat referensi untuk post-doc nih! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s