When we meet each other

“Assalamu’alaikum, cinta…” kataku suatu ketika. Ia hanya tersenyum, manis sekali. Lalu memelukku dengan lembut. Sembilan Mei 2015, sekitar 11735 km jarak yang memisahkan kami selama sekitar satu bulan setengah terakhir ini, tuntas sudah. Istriku kini hadir di Grenoble (Prancis) untuk menemaniku dan akan terus bersama-sama mengarungi luasnya samudra kehidupan rumah tangga kami.

“Bagaimana perjalanan hari ini?” Tambahku kemudian setelah kubiarkan Ia puas memeluk tubuhku. Sebuah kotak makan berisi Mie goreng dan ayam kecap menemani bincang-bincang hangat kami sore itu, di sebuah tempat bersejarah bernama Gare de Grenoble (Stasiun Grenoble).

“Alhamdulillah, Mas. Lumayan lancar. Tadi sempat juga berkenalan dengan dosen muda dari Indonesia yang akan studi S3 di Frankfruit, Jerman. Tadi aku sempat kasih kartu nama mas ke beliau juga soalnya beliau minta. Mungkin sebentar lagi beliau akan menghubungi mas.” Terangnya. Lalu ia menceritakan kisah perjalanannya dengan semangat, mulai dari mabuk di pesawat, angkat-angkat koper sendirian saat di kereta, hingga resleting baju yang rusak. Aku hanya memandanginya yang sedang asyik bercerita, sambil sesekali menimpali. Ah… Istriku.. begitu mulianya dirimu… Kau menjadi sangat mandiri saat kau dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kuat, kau menjadi sosok yang lembut saat kau berhadapan dengan suamimu, dan kaupun bisa berubah menjadi sosok yang luar biasa penyabar saat kau dapati sumaimu sedang mengingatkanmu.

Dan perjalanan penjelajahan Eropa pun dimulai. Kali ini kami sedang menjelajahi sebuah daerah asri bernama Vizille, sekitar 19km dari Grenoble. Daerah ini menyimpan sejarah yang diabadikan dalam museum Revolusi Prancis. Sayang, kami belum sempat menjelajahi isi meseum tersebut dan mempelajari apa yang ada di dalamnya. Museum Revolusi Prancis ini memiliki halaman dan daerah konservasi binatang yang sangat luas. Kali ini kami memilih untuk menghabiskan waktu sehari kami untuk menjelajah wilayah tersebut, sekaligus bernostalgia dengan suara gemercik aliran sungai yang jernih, suara bebek dan angsa yang bermain air, juga kuncup kuncup bunga yang sudah bermekaran di musim semi ini. Kami bertekad bahwa dalam waktu dekat akan kembali mengunjungi museum ini, untuk kembali belajar sejarah, sekaligus mengajak teman yang sedang mengambil studi sejarah di Prancis, jadi akan menjadi pengalaman yang tepat, pikirku. Apalagi, Vizille dan Grenoble terhitung dekat, hanya dengan transportasi berupa bus kota, kami bisa diantar menuju Museum tersebut dengan biaya yang sangat murah.

Dalam waktu dekat kami akan melakukan perjalanan panjang pertama kami. Bulan Madu pertama, begitu kami menamainya. Pada tanggal 1-5 Juni, aku akan dikirim Labku ke Lille untuk mengikuti sebuah konferensi ilmiah mengenai Statistika, bidangku. Tentu saja aku mengajak istriku untuk menjelajah Lille bersama, sekaligus kami akan memperpanjang perjalanan kami selama dua hari menuju Belgia mengunjungi teman dekat disana. Semoga perjalanan kami kali ini terus diliputi keberkahan. Insyaallah.

Advertisements

One thought on “When we meet each other

  1. Keren banget Didin ceritamu. Seneng banget bacanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s