Sebuah Cerita di Negeri Dongeng Sepuluh Desember

Sekitar pukul 03.00 dini hari tiba-tiba ia terbangun. Ia mengucek matanya sesekali sembari mengumpulkan kesadaran. Hari ini langit Grenoble serasa berbeda, seperti orang-orang pada umumnya, ia merasa hari ini cukup spesial,-setidaknya baginya- karena dalam hitungan diskrit, angka 22 tahun berubah menjadi 23 tahun mulai hari ini.

Reflek ia meng”on”kan internet di Tablet. Beberapa messages personal dan komunal pun muncul dalam notfikasi whatsapp dan Line-nya. Oh iya, Rudi, sosok yang berulang tahun tersebut, terbiasa untuk menonaktifkan status tanggal lahirnya di Facebook pada hari-hari menjelang ulang tahunnya sampai sekitar tiga hari pasca ulang tahunnya. Tujuannya simpel, ia tak ingin timeline Facebooknya terlalu penuh dengan ucapan selamat ulang tahun yang mungkin justru terlalu ”crowded”, sekaligus ia ingin mendapat do’a dan ucapan hanya dari mereka yang mengingat tanggal lahirnya tanpa bantuan reminder dari Facebook.

Ia membaca satu-satu messages tersebut, sambil terus bersyukur karena ia dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarnya, bahkan tak sedikit messages tersebut datang dari keluarga dan sahabat yang jauh di Indonesia sana.

“Terimakasih Ail telah menjadi yang pertama dalam mengucapkan do’a di ulang tahunku.. walau waktu Prancis masih pukul 18.00, tapi itu menandakan kamu justru terjaga pukul 00.00 di duniamu disana di Indonesia… terimakasih atas foto kue ulang tahun dan video kecilnya… Berharap selanjutnya kue asli yang dikirim.. hehe”

“Terimakasih saudaraku, Jika Ail mengucapkan tepat jam 00.00 waktu Indonesia, engkau pun sepertinya tak mau kalah, Nanu. Hehehe.. Terimakasih telah masih terbangun di pukul 00.00 waktu Prancis, 10 Desember 2014, dan menjadi yang pertama melantunkan do’a untukku , bahkan saat aku sudah terlelap pada waktu tersebut.. wkkkkk”

“Dan kamu juga… terimakasih atas do’anya yang kau lantunkan tepat pukul 00.00 juga… that was really something…”

Ups.. ia teringat kiriman paket beberapa hari lalu, ia mendapat hadiah dari saudaranya di Indonesia, Rama, berupa kaos bertuliskan man jadda wa jada (barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil). Ia ambil baju tersebut, lalu ia siapkan untuk ia pakai hari itu, hari 23 tahunnya itu.

Rudi melanjutkan membaca satu-satu pesannya, ada si Novri, juga keluarganya di PPSDMS NF dan PPI Grenoble pun tak ketinggalan mengucapkan selamat dan melantunkan do’a untuknya. “Terimakasih all”, batinnya.. “terutama Nanu yang ternyata menjadi stimulus di grup PPI Grenoble dan Huda di grup PPSDMS NF” tambahnya dalam hati… Keluarga di Indonesia juga memberikan sepercik doa dan harapan di pertambahan usianya.. Terimakasih Ibu, Bapak, adekk…

Woooo….. ada kiriman audio message dari sahabatnya yang sedang penempatan di Sumatra sana mengabdi menjadi pengajar muda… unik pesannya… thanks, Mas azhar.. 🙂

Finally, pagi menjelang subuh itu akhirnya ia tutup semua messages dengan tangis haru, saat menyaksikan video yang teramat spesial dari tiga saudaranya di Indonesia. Video berdurasi 2 menit 26 detik yang membuatnya menitikkan air mata pula selama durasi video itu diputar… “that was really really special… Big thanks Mbak Yati, Mas Lana, dan Sari… You make my 23 become so amazing…”

Malamnya, Rudi “pura-pura” dikagetkan oleh kejutan lucu, unik, namun sudah tertebak dari keluarga barunya di Grenoble. Terikasih dompetnya Diah, Nanu, Yani, dan Rina. Diam-diam rudi menyukai warna dompetnya… Hihihihi..

Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears”  (John Lennon)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s