I find ‘them’ again…

Memasuki kehidupan baru di lingkungan baru selalu berkorelasi signifikan dengan satu kata : ADAPTASI. Bertempat tinggal di kota pelajar yang benar-benar ‘Eropa’ justru memiliki kesan tersendiri. Tiga deskripsi utama yang bisa kugambarkan mengenai Grenoble selain sebagai ‘Kota pelajar’ adalah : Dikelilingi oleh pegunungan Alpen, Tempat Ski, Minim anggota PPI.

Grenoble sebagai salah satu kota kecil di Perancis memang tak memiliki banyak masyarakat Indonesia yang tinggal disini, jadi sepertinya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan Paris, Lyon atau Marseille. Tahun ini, yang berjumlah belasan itu, justru berada pada posisi menanjak karena beberapa tahun silam anggota PPI tak pernah tembus dua digit. Sedikit tapi berkah, sedikit tapi solid, atau sedikit tapi berkualitas, kira-kira begitu doa kami.. hehehe.. Dan karena ‘sedikit’ itu justru diterbitkan tulisan ini.. Because i find ‘them’ again.. ‘them’ means F-A-M-I-L-Y. 🙂

Tulisan ini didedikasikan untuk saudara-saudara PPI Grenoble, berdoa agar persaudaraan terus terjalin hingga nanti masa ikut andil dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat 🙂

Oke, kita mulai dari Résidence Houille Blanche yang berjumlah 7 orang : Puti, Yanci, Za, Fabrice, Mas Abduh, Mbak Lia, dan aku (Didin).

Mengenal sosok mahasiswi Sarjana pecinta sejarah ini, cukup takjub dengan kedewasaan pemikirannya, begitulah Puti. Lahir sekitar 20 tahun lalu, justru tak menghalanginya memiliki referensi pengetahuan sejarah yang ‘almost’ lengkap bahkan sebelum tahun Masehi dimulai. Selain sangat jago berbahasa inggris, perempuan yang luar biasa blak-blakan ini juga pernah meraih sabuk hijau Taekwondo, jadi harus hati-hati karena beliau sudah pernah memakan korban melalui tendangan dollyo tchagui -nya. Hari pertama sampai Grenoble dimasakin nasi goreng tuna, and many thanks for that. I’ll never forget it.

Handriyanti Diah Puspitarini, begitu nama lengkap sosok yang terkenal suka nyasar di kota kecil ini. Memiliki tanggal lahir yang sama (tanggal dan bulan doang, untuk tahun aku tetep lebih muda :p), membuat olok-olokan sehari-hari kami mengenai ‘usia boros’ dan ‘wajah boros’. Ahli main biola dan tak segan-segan untuk hidup berhemat agar bisa nonton konser biola seharga biaya makan sebulan ini juga memiliki hobi jalan-jalan, sempat menabung hingga seribu euro untuk mempersiapkan menyaksikan Aurora Live di Finlandia. Perempuan yang luar biasa takut dengan lorong gelap ini selalu mengeluarkan satu set lengkap saat nonton bareng film horor : Headset penutup telinga agar gak denger suara film dan selimut penutup wajah biar gak nonton layar saat si hantu muncul. Well, pertanyaannya : terus situ nonton apa kalau telinga dan mata ditutup ??

Usianya baru 18 tahun, jadi ‘mungkin’ agak pantas kalau dia memang yang paling ‘labil’ diantara seluruh pengurus PPI Perancis. Di Indonesia memiliki panggilan Bi Ina, sedangkan di perancis dipanggil Bi Ijah, itulah Zahrina 🙂

Jika kamu punya teman yang senyumnya selalu bikin orang pengen nonjok, apa yang akan kamu lakukan ? Setidaknya aku punya teman seperti itu : Fabrice namanya. Lahir di Montpelier (Perancis) sekitar 24 tahun silam membuatnya mencari jejak ari-arinya dikubur sehingga ia memilih untuk melanjutkan studi Master di Perancis-Italia melalui program beasiswa Erasmus mundus. Jangan ditanya skor Toefl berapa, nyaris 600, jadi kalau lagi pengen ngerjain : ajak ngobrol bahasa Perancis aja… secara lahir di Perancis kan…:p. Seperti Yanti, dokter asal Makassar ini juga jago alat musik, bahkan pernah menjadi pengajar profesional untuk alat musik piano. Bagi yang pengen antri tanda tangan : tarif 5 euro dan bisa menghubungi email di bawah ini 🙂

Mas abduh dan Mbak lia. Pasangan suami istri yang baru menikah Agustus 2014 ini diceritakan satu paket saja.. hehe. Mas abduh adalah alumni Teknik Industri ITS yang akhirnya mendapat beasiswa M2 dan PhD di Perancis. Sosok pekerja keras ini memang low-profil, jadi kita tunggu saja karya karya besarnya. Menemani sang suami melaksanakan riset PhDnya di Perancis untuk 3 tahun mendatang, Mbak Lia rela meninggalkan karirnya. Perempuan kalem asli jawa tengah ini ternyata ‘Master’ dalam dunia per’Uno’an karena sangat seringnya meraih juara ‘satu’ setiap diadakannya perhelatan Uno. *ups… ngambil kartu lagi deh ‘satu’ biji…. [if you know what i mean]

Halil, hal yang paling spektakuler dari Pria kelahiran Makassar ini adalah menikah di Usia 18 tahun tepat setelah kelulusan SMA nya. Menjalani studi sarjana pada bidang Hubungan Internasional di Perancis membuatnya harus berpisah beberapa waktu dengan sang istri tercinta. Sosok 20 tahun ini sangat asik untuk diajak diskusi, selain karena ketertarikan bidang yang beririsan, juga pengetahuannya yang cukup luas :Sirah Nabawiyah, Hukum-hukum agama, pendidikan sampai dinamisasi politik di Indonesia. Mantan ketua OSIS di SMAnya dan mantan ketua PPI Grenoble dua periode ini juga sudah berkali kali mengantongi berbagai kejuaraan olah raga, khususnya sepak bola dan basket. Diperkenalkan satu step setelah seluruh penghuni Houille Blanche karena ada indikasi bahwa Houille Blanche akan nambah member 🙂 Kayaknya Houille Blanche harus kasih komisi nih karena promote orang baru..

Kak Arif, Pria sipit ini sekarang mendapat amanah sebagai ketua PPI Grenoble. Tak heran, aura dan kharismanya sudah tercium sejak pertama bertemu. Setelah meninggalkan program Masternya di Taiwan, kak arif justru tembus beasiswa Eiffel – salah satu beasiswa yang cukup susah ditembus manusia biasa – untuk melanjutkan studi di Perancis. Sosoknya yang ramah dan murah senyum membuatnya menjadi favorit di PPI. Kak fida, sosok ibu PPI Grenoble yang luar biasa bijak namun tetap easy going. Kesukaannya yang luar biasa untuk dipotret benar-benar membuatku berpikir bahwa saat tradisi ‘turun tanah’ masa balitanya dulu mengambil ‘kamera’ atau setidaknya ‘roll film foto’:) Kalau favorit PPI versi laki-laki itu kak Arif, versi wanitanya kak Fida.

Untuk ditya, spesial dideskripsikan tidak dengan kalimat panjang. Ditya = baik, suara halus, pintar banget masak, pengoleksi kartu pos, si pemilik baju segambreng, melankolis akut terutama jika nonton film film drama. Kalau kak rizka, Penerima beasiswa Double-Degree Indonesia Perancis (ITB-UJF) ini memiliki karakter yang unik : kadang rame dan kadang jayus.

For others, please visit : http://ppigrenoble.wordpress.com/warga-dan-alumni/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s