[Bisa Jadi] Sholat Jum’at Terakhir di Marseille

Marseille adalah sebuah kota di pesisir tenggara Perancis, dengan penduduk terbanyak kedua di Prancis (setelah Paris) dengan jumlah 852.395 jiwa (2007). Marseille juga merupakan pusat wilayah metropolitan terbesar ketiga di Perancis setelah Paris dan Lyon [Wikipedia]. Karena letaknya yang berbatasan dengan laut mediterania, membuatnya semakin mudah untuk didatangi pendatang asal afrika bagian utara dan akhirnya menjadi salah satu kota berpenduduk muslim terbanyak di Perancis karena sebagian besar pendatang yang mayoritas muslim tersebut memilih untuk menetap di Marseille.

Jumat 26 September 2014 mungkin akan menjadi jumat terakhirku di Marseille, mengingat aku telah merampungkan M.Sc ku di Aix-Marseille University 19 September lalu dan akan segera memulai penelitian PhD di Grenoble – Joseph Fourier University [yang katanya] sang kota pelajar, awal Oktober tahun ini.

Sudah lama aku ingin berbagi pengalaman pelaksanaan ibadah sholat jumat di kota Marseille, dan ternyata aku diberikan kesempatan [atau menyempatkan diri ?] justru di ujung sesi. Masjid terdekat dengan asramaku berjarak kurang lebih 15 menit ditempuh dengan jalan kaki [atau 10 menit jika agak terburu-buru]. Masjid 2 lantai ini cukup longgar saat sholat harian 5 waktu, namun luar biasa sesak saat pelaksanaan sholat jumat. Saking sesaknya, pernah sekali aku mendapat tempat sholat tepat di depan kamar mandi masjid.

Terimakasih Marseille, banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa aku petik selama setahun menghirup udaramu dan menapaki tanahmu… Aku harap aku dapat lebih banyak belajar dan berkarya di tanah rantau selanjutnya, named Grenoble.

Seperti sholat wajib lainnya, waktu dimulainya sholat jum’at bervariasi menyesuaikan jadwal peredaran matahari, mengingat Negara dengan 4 musim memiliki variasi periode waktu peredaran matahari yang cukup tinggi dibandingkan dengan Negara dengan 2 musim seperti Indonesia. Untuk mendapatkan tempat yang cukup “layak”, aku harus datang ke Masjid setidaknya 30 menit sebelum khutbah dimulai. Jika tidak, bisa jadi akan mendapat tempat sholat di lorong sempit atau di depan kamar mandi masjid pernah aku dapatkan akibat datang sedikit agak mepet.

Sebuah pengalaman menarik saat aku menjalankan ibadah sholat jum’at di Akademi Militer Magelang [saat itu sedang ada pelatihan kepemimpinan dan kedisiplinan melalui program Beasiswa Indofood], khutbah sholat jum’at yang relatif singkat itu (sekitar 20 menit) benar-benar dimanfaatkan akademia untuk istirahat [baca: tidur] karena jadwal mereka memang sangat padat, dan pengakuan itu saya dapatkan saat mengobrol dengan beberapa diantara mereka yang takjub dengan jas almamater ITS ku. Fenomena tersebut aku temukan pula di masjid di desa dan kampus, dimana sebagian besar jama’ah [mungkin tidak] menyengajakan tidur saat khutbah berlangsung. Di Marseille, khutbah dibagi menjadi 2 bagian seperti khutbah-khutbah biasanya, hanya saja khutbah pertama sering disampaikan dalam bahasa arab sekitar 30 menit lalu khutbah kedua disampaikan dalam bahasa perancis sekitar 15 menit. Tidur puas 45 menit? Jangan harap, antar jama’ah akan saling mengingatkan jika ada salah satu jama’ah yang tertidur saat khutbah karena mendengar khutbah sangat dianjurkan.

Sistem infak yang dijalankan, harus dikritisi, tidak begitu efektif seperti kotak infak yang dijalankan di sebagian besar masjid di Indonesia. Kotak infak tersebut disediakan di shaf paling depan lalu ia berkeliling masjid. Di Marseille, ada seseorang yang ditugaskan berkeliling seluruh masjid memberikan fasilitas bagi jama’ah yang ingin berinfak.

Adzan, tak hanya sholat jum’at. Rasa-rasanya belum pernah selama setahun menjalankan sholat wajib 5 waktu di masjid Perancis dan mendapatkan suara adzan yang merdu dan panjang-panjang seperti di Indonesia, bahkan juga tidak saat melaksanakan sholat di Grand Mosque (Masjid Agung) di Paris. Kalau untuk bacaan sholat pada saat sang imam memimpin sholat, memang tak perlu ditanyakan ke-fasih-an-nya baik dari sisi tajwid maupun hafalan.

Selepas khutbah, tibalah waktunya pelaksanaan 2 rakaan shalat jum’at. Bersyukurlah yang dapat menjalankan ibadah sholat jum’at di Indonesia dengan segala fasilitas masjid yang tersedia. Disini, kami harus berjejal-jejal untuk membuat pas ruangan berkapasitas “x” orang untuk “1.7x” manusia. Akibatnya? Paling Nampak pada waktu sujud. Empat kali sujud sholat jum’at, 4 kali pula kepalaku menyambung kaki jama’ah yang sujud di depanku sekaligus kakiku menyambung mengenai kepala jama’ah yang sedang sujud dibelakangku. Jangan ditanya hanya pada sisi vertikal saja, sisi horizontal pun demikian sehingga duduk tasyahud akhir yang biasanya aku lakukan di Indonesia, harus kami jalankan seperti duduk tashyahud awal karena kapasitas tempat satu baris tidak memenuhi untuk itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s